Berita

Presiden Donald Trump/Net

Dunia

Dampak Pandemik Covid-19, Utang Amerika Melangit

RABU, 06 MEI 2020 | 06:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pandemik Covid-19 bukan saja menjadi krisis kesehatan, tetapi juga menjadi krisis utang. Meskipun tahun ini Amerika Serikat bakal mengalami defisit lebih dari 4 triliun dolar AS, namun pemerintahan Donald Trump nekat kembali akan berutang senilai 3 triliun dolar AS pada 2020.

Utang itu akan digunakan sebagai dana penanganan virus corona yang anggarannya menjadi sangat meledak, seperti dikutip dari BBC, Selasa (5/5).

Kongres AS menyetujui utang jumbo tersebut untuk dua bulan terakhir. Amerika membutuhkannya untuk menghindari dampak ekonomi dari krisis.


Selain pinjaman itu, Departemen Keuangan AS juga mengatakan kemungkinan akan menambah utang lagi sebesar 677 miliar dolar AS di  kuartal ketiga.

Lonjakan besar dalam penerbitan utang dimaksudkan untuk menutupi biaya bantuan pemerintah untuk individu dan bisnis. Juga penangguhan pajak individu dan bisnis hingga Juli, dan peningkatan dalam asumsi saldo kas treasury pada akhir Juni.

Untuk memperoleh utangan, AS akan melepas surat utang pemerintah. Secara historis, obligasi AS memiliki tingkat bunga yang relatif rendah. Lantaran utangnya dipandang sebagai risiko yang relatif rendah oleh investor di seluruh dunia.

Sebenarnya, jauh sebelum wabah ini, beban utang negara telah naik ke tingkat yang sangat berisiko. Negara menghabiskan lebih banyak anggaran dari yang dibutuhkan di tengah pendapatan yang terus menurun.

Pekan lalu, ketua bank sentral Amerika, Jerome Powell, mengatakan dia ingin melihat keuangan pemerintah AS dalam kondisi yang lebih baik sebelum pandemi.

Namun, ia mengatakan saat ini pengeluaran dianggap sangat penting untuk meredam pukulan ekonomi. "Kita membutuhkan lebih banyak bantuan jika ingin ada pemulihan yang kuat," katanya.

Barangkali pengacara sekaligus Senator senior AS, Judd Gregg, benar.  Ia mengatakan kemarin bahwa pepatah lama, ‘ketika berada di dalam lubang adalah berhenti menggali’  tidak berlaku lagi, karena Amerika terus saja menggali, dan penggalian tetap berlangsung dengan ganas oleh Presiden Trump dan Kongres.

“Tampaknya tidak ada batasan untuk jumlah pengeluaran baru yang diusulkan dan dengan cepat disahkan untuk mencoba mengatasi gangguan yang disebabkan oleh pandemi ini,” kata Gregg.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya