PM India, Narendra Modi/Net
India sedang mengembangkan bank tanah seluas hampir dua kali lipat ukuran Luksemburg untuk menarik perusahaan-perusahaan yang pindah dari China.
Luksemburg sendiri luasnya mencapai 243.000 hektar.
Lahan seluas 461.589 hektar telah diidentifikasi di seluruh negeri untuk tujuan tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/5).
Luas itu sudah termasuk 115.131 hektar lahan industri yang ada di beberapa negara bagian seperti Gujarat, Maharashtra, Tamil Nadu dan Andhra Pradesh.
Perdana Menteri India Narendra Modi bekerja sama dengan pemerintah negara bagian telah mempermudah aturan kepemilikan tanah. Selama ini lahan menjadi salah satu penghalang terbesar bagi perusahaan yang ingin berinvestasi di India.
Ini agar investor dapat berusaha mengurangi ketergantungan pada China sebagai basis manufaktur setelah wabah virus corona dan gangguan pasokan yang diakibatkannya.
Saat ini, investor yang tertarik untuk mendirikan pabrik di India perlu membeli tanah sendiri. Prosesnya, dalam beberapa kasus, menunda proyek karena melibatkan negosiasi dengan pemilik lahan kecil untuk berpisah dengan holding mereka.
Menyediakan tanah dengan akses listrik, air, dan jalan dapat membantu menarik investasi baru ke India yang saat ini ekonominya tengah melambat, bahkan sebelum adanya pandemik.
Pemerintah India telah memilih 10 sektor yakni listrik, farmasi, peralatan medis, elektronik, teknik berat, peralatan surya, pemrosesan makanan, bahan kimia dan tekstil sebagai area fokus untuk mempromosikan manufaktur.
Dikabarkan, beberapa perusahaan asal Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan China telah menyatakan minatnya untuk pindah ke negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia ini.
Keempat negara tersebut termasuk di antara 12 mitra dagang utama India, dengan total perdagangan bilateral mencapai 179,27 miliar dolar AS.
Investasi langsung asing oleh keempat negara antara April 2000 dan Desember 2019 mencapai lebih dari 68 miliar dolar AS.