Berita

Kepala UPT Puskesmas Pasir Kaliki Kota Bandung, dr Deborah Johana Rattu/Repro

Kesehatan

Pasien Covid-19 Dan Tim Medis Tak Butuh Stigma Atau Diskriminasi, Tapi Lebih Butuh Dukungan Masyarakat

RABU, 22 APRIL 2020 | 16:35 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Berada di tengah pusaran pandemik Covid-19 membuat para tenaga kesehatan harus bekerja lebih keras dalam menjaga agar wabah tidak meluas. Bukan sekadar menyembuhkan yang sakit, tetapi juga menjaga yang sehat, termasuk mereka, agar tidak jatuh sakit adalah tantangan terbesar hari ini.

Hal tersebut dialami langsung Kepala UPT Puskesmas Pasir Kaliki Kota Bandung, dr Deborah Johana Rattu. Wilayah kerjanya merupakan daerah zona merah yang paling banyak terdapat pasien positif Covid-19 di Kota Bandung. Kondisi ini memberinya tantangan tersendiri dalam menghadapi pandemik yang melanda seluruh dunia ini.

“Puskesmas di Kecamatan Cicendo ini ada dua, satu di Pasir Kaliki ini, satu di Sukaraja. Di wilayah kerja kami memang yang paling banyak positifnya. Per hari ini, dari 20 yang positif, 13-nya ada di kami,” ungkapnya, Rabu (22/4).


Kendati tak selalu berhadapan langsung dengan pasien positif Covid-19, namun tugas utamanya sebagai dokter Puskesmas wajib memastikan orang-orang yang tinggal di sekitar pasien berada dalam keadaan sehat dan aman. Pihaknya mesti menelusuri siapa saja yang pernah berinteraksi dengan pasien.

“Yang paling berat bagi kami bukan hanya melawan penyakitnya, tetapi juga melawan stigma masyarakat tentang pasien, keluarganya, bahkan kepada petugas kesehatan. Kadang kami baru datang untuk penelusuran pasien saja warga sudah ribut dan takut,” tuturnya, dikutip Kantor Berita RMOLJabar.

Meskipun begitu, dia tak lantas menyerah. Sebab tugasnya adalah panggilan jiwa. Sedari awal, ia memilih mengambil jalur kesehatan masyarakat karena ingin menjaga agar warga selalu sehat, apalagi di tengah situasi seperti sekarang.

“Awalnya saya ingin ngambil bedah, tapi ternyata public health itu lebih memanggil saya. Akhirnya saya turun ke puskesmas. Meskipun banyak dokter puskesmas itu, bukan dipandang sebelah mata, tetapi orang itu berbeda memandang dokter yang ada di puskesmas,” terangnya.

“Padahal dokter di puskesmas itu memiliki kerja yang luar biasa. Dia harus memiliki pelayanan kesehatan primer, di mana dia harus mengelola pelayanan kesehatan kemudian upaya kesehatan masyarakat, ini yang beratnya,” imbuhnya.

Pandemik Covid-19 bukanlah yang pertama baginya. Selama 18 tahun berkarier sebagai dokter di puskesmas, ia telah tiga kali menghadapi wabah penyakit di masyarakat. Pengalaman mengesankan pertamanya saat menangani kasus H1N1, atau yang lebih dikenal dengan flu babi. Kebetulan, saat itu tepat terjadi di wilayah kerjanya di Ciumbuleuit.

Begitupun dengan wabah Hepatitis A yang saat itu sempat merebak di wilayah yang sama. Saat itu ada puluhan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan jatuh sakit karena penyakit itu.

“Tapi yang sekarang yang paling melelahkan. Selain karena siklusnya panjang, kita juga harus berhadapan dengan stigma tadi,” tuturnya.

Untuk itu, dr Deborah pun mengajak kepada seluruh tenaga kesehatan lainnya untuk saling menguatkan. Setiap hari, ia selalu memotivasi stafnya agar tetap semangat dalam bekerja. Ia sangat mengerti jika saat-saat terberat di situasi hari ini adalah ketika harus meninggalkan keluarga di rumah.

“Itu paling berat. Kita harus meninggalkan keluarga sementara. Pas awal Maret itu kunjungan pasien ke puskesmas masih sangat tinggi. Sekarang setelah sistem rujukan dipermudah, kunjungan sudah mulai berkurang,” jelasnya.

Oleh karena itu, dukungan moril baik dari keluarga maupun sesama rekan kerja sangat penting. Ia selalu menekankan jika apa yang dilakukan saat ini adalah panggilan jiwa dan amanah yang harus dijalankan.

“Ini jadi amanah, bahwa profesi yang kita geluti ini saat ini memang sedang diuji, panggilan kita seperti apa. Tetap bersemangat dalam melayani masyarakat, Tuhan pasti melindungi apapun yang kita lakukan kalau kita ikhlas menjalankan panggilan ini,” tutupnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya