Berita

Snouck Hurgronje/Net

Muhammad Najib

Menelusuri Jejak Snouck Hurgronje

SELASA, 14 APRIL 2020 | 18:30 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

NAMA lengkapnya Chrstiaan Snouck Hugronye, lahir dari keluarga Protestan yang taat di Tholen, Oosterhout, Belanda, pada 1857.

Ia kemudian kuliah di Universitas Leiden, mengambil Jurusan teologi dan lulus pada 1874. Selanjutnya ia mengambil program doktor di Universitas yang sama, dengan disertai berjudul: 'Het Mekkaansche Feest' atau "Perayaan Mekah". Dari sini sudah tampak minatnya yang sangat besar tentang Islam.

Tahun 1885, Snouck berhasil menyusup ke kota suci Makkah yang terlarang bagi non-Muslim. Bantuan Konsulat Belanda di Jeddah yang memiliki hubungan baik dengan Gubernur Turki Usmani di Jeddah, dan kemampuan Bahasa Arab yang dimilikinya tentu berperan besar memuluskan petualangannya. Saat itu, Makkah dan Madinah di bawah kekuasaan Turki Usmani.


Di Makkah, Snouck berhasil menarik hati para ulama setempat untuk membimbingnya memperdalam ajaran Islam. Kesempatan ini sekaligus ikut mengasah kemampuan Bahasa Arabnya. Lebih dari itu, ia dikabarkan juga menikahi wanita setempat asal Jeddah.

Selama tinggal di Jeddah, ia memanfaatkan waktunya untuk bergaul dengan ulama-ulama asal Nusantara (Indonesia), sekaligus menggunakan kesempatan ini untuk belajar bahasa Melayu dan memahami budayanya.

Seorang ulama Nusantara yang sangat dekat dengan Snouck di Jeddah waktu itu adalah Raden Aboe Bakar Djajadiningrat asal Priangan, Jawa Barat. Konon atas saran dan bujukan Aboe Bakar, Snouck kemudian masuk Islam pada 4 Januari 1885. Bahkan yang memberikan nama Abdul Ghafar ialah Raden Aboe Bakar.

Akan tetapi, Snouck mengaku hanya berpura-pura masuk Islam, sebagaimana surat yang dikirim kepada teman kuliahnya bernama Carl Bezold, tertanggal 18 Februari 1886, yang sampai kini masih bisa dilihat di Perpustakaan Universitas Heidelberg.

Tahun 1889, dirinya dikirim Kerajaan Belanda ke Hindia Belanda (Indonesia) untuk menjadi peneliti pendidikan Islam di Buitenzorg (Bogor), sekaligus menjadi Gurubesar Bahasa Arab di Batavia. Pada saat bersamaan dirinya diangkat menjadi penasehat Kerajaan Belanda untuk urusan kolonial.

Tahun berikutnya Snouck menikahi putri bangsawan pribumi asal Ciamis, bernama Sangkana putri Raden Haji Mohammad Ta'ib dengan tujuan memperdalam pemahamannya tentang adat dan budaya Melayu, serta agama Islam yang dipraktikan masyarakat setempat.

Dengan modal bahasa Melayu dan pemahaman yang sangat baik tentang Islam, Snouck mengunjungi Aceh yang masih dilanda perang berkepanjangan tahun 1891. Pemerintah kolonial Belanda kewalahan menghadapi rakyat Aceh yang sangat gigih dan berani.

Selama di Aceh, Snouck menyamar sebagai Haji Abdul Ghaffar dan berhasil menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh adat serta para ulamanya. Selama 7 bulan hidup di tengah-tengah warga setempat, Snouck akhirnya mengerti mengapa Aceh sulit ditaklukkan selama ini.

Tahun 1892, Snouck menulis laporan kepada pemerintah kolonial di Batavia dengan judul: Atjeh Verslag, yang isinya membeberkan cara menaklukkan bumi Serambi Mekah. Laporan ini kemudian dibukukan dengan judul: De Atjeher. Di tahun ini pula, Snouck menikah untuk ketiga kalinya. Kali ini ia menyunting Siti Sadiah, putri Raden Haji Muhammad Soe'eb, seorang pejabat urusan agama Islam di Bandung.

Setelah dipanggil pulang ke negrinya, pada tahun 1910, Snouck kawin untuk keempat kalinya dengan Ida Maria putri seorang pendeta bernama Dr.AJ. Gort.

Diantara laporan intelijen dan temuan penting Snouck yang kemudian membuat rakyat Aceh mampu dilumpuhkan Belanda adalah: Pertama, perlawanan di Aceh tidak benar-benar dipimpin oleh Sultan seperti anggapan Belanda, namun oleh ulama-ulama Islam.

Kedua, ajaran Islam memang sangat mempengaruhi masyarakat Aceh, akan tetapi ia baru mengikat manakala sudah diadopsi menjadi hukum adat.

Ketiga, Islam dalam praktiknya harus dibagi menjadi tiga bentuk antara lain: ibadah, sosial, dan politik. Dalam bentuk ritual (ibadah mahdzah) dan aksi sosial/kemanusian, Snouck memberi nasihat agar pemerintah kolonial agar umat Islam diberi kebebasan. Akan tetapi Islam dalam bentuk kegiatan politik harus dilarang secara tegas, kalau perlu dengan cara kekerasan.

Sebagai intelijen sekaligus ilmuwan, prestasi Snouck Hurgronje luar biasa, dan tidak kalah hebat dibanding Laurence of Arabia. Bedanya jika Snouck hanya menjadi pahlawan bagi Belanda, sedangkan Laurence disamping menjadi pahlawan bagi Inggris, juga pahlawan bagi negara-negara Sekutu yang memenangkan perang dunia pertama.

Lebih dari itu kemenangan Sekutu dalam perang dunia pertama, berhasil mengubah peta dunia Islam sampai sekarang. Sementara kemenangan Belanda khususnya terhadap rakyat Aceh, hanya bisa dinikmati sampai tahun 1945 saja.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

UPDATE

Hindari Work From Home Jumat dan Senin

Kamis, 26 Maret 2026 | 02:13

Permainan Kubu Jokowi dalam Kasus Tuduhan Ijazah Palsu Makin Ngawur

Kamis, 26 Maret 2026 | 02:11

Prabowo Perintahkan Bahlil Cari Sumber Pendapatan Sektor Mineral

Kamis, 26 Maret 2026 | 01:37

RS Jiwa Dipenuhi Pecandu Game Online dan Judol

Kamis, 26 Maret 2026 | 01:14

Buntut Penangguhan Yaqut, Kasus Kuota Haji Bisa Berlarut-larut

Kamis, 26 Maret 2026 | 01:01

Tiket Taman Margasatwa Ragunan Tetap Dipatok Rp4 Ribu

Kamis, 26 Maret 2026 | 00:28

Prabowo Pacu Hilirisasi dan Ketahanan Energi

Kamis, 26 Maret 2026 | 00:19

Pelanggaran Personel BAIS TNI Tidak Berdiri Sendiri

Kamis, 26 Maret 2026 | 00:05

Satgas PRR Percepat Penyelesaian Hunian Tersisa

Rabu, 25 Maret 2026 | 23:25

MBG cuma 5 Hari Potensi Hemat Rp40 Triliun per Tahun

Rabu, 25 Maret 2026 | 23:22

Selengkapnya