Berita

Menlu AS, Mike Pompeo/Net

Dunia

Sindir China, Menlu AS: Demokrasi Atau Tidak, Semua Negara Harus Transparan

RABU, 08 APRIL 2020 | 08:23 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mendesak semua negara untuk berlaku transparan dan jujur ketika memberikan data mengenai pandemik virus corona.

Itu, Pompeo ungkapkan dalam konferensi pers Departemen Luar Negeri pada Selasa (7/4), yang dianggap menyindir China yang sebelumnya melaporkan nol kematian akibat Covid-19 untuk pertama kalinya.

Meskipun begitu, Pompeo tidak menyebutkan kata China atau menggunakan retorika keras seperti yang selama ini dilakukannya.


"Setiap negara, apakah mereka negara demokrasi atau tidak, harus berbagi informasi secara transparan, terbuka, dan efisien," ujar Pompeo seperti dimuat Reuters.

Perubahan sikap Pompeo dan pejabat lainnya yang lebih lembut terhadap China disinyalir terjadi setelah Presiden AS Donald Trump melakukan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping via telepon pada 27 Maret.

Pada saat itu, Xi menegaskan bahwa China telah transparan dan mengecam tindakan keras AS.

Dikatakan oleh Dutabesar China untuk AS, Cui Tiankai pada Minggu (5/4), terdapat pembicaraan yang kurang menyenangkan antara kedua belah pihak. Kendati begitu, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berselisih dan harus fokus pada solidaritas untuk menghentikan virus corona baru.

Menyikapi Dubes Cui, seorang pejabat senior di pemerintahan Trump mengatakan, jika China memang ingin melakukan kerjasama dengan AS, maka mereka bisa mengizinkan para peneliti AS untuk bekerja secara langsung di laboratorium Wuhan.

"Jika Dutabesar Cui mengatakan China bersedia bekerja sama dengan AS, kami akan menghargai kesempatan untuk bekerja secara langsung dengan laboratorium virologi mereka di Wuhan," ujarnya.

Pada Senin (6/4), China melaporkan tidak ada kasus kematian akibat virus korona untuk pertama kalinya sejak wabah dimulai dan terjadi penurunan dalam kasus baru.

China juga telah menarik penguncian di Wuhan selama lebih dari 2 bulan pada Rabu.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya