Berita

Berke Khan/Net

Muhammad Najib

Mengenang Berke Khan, Muslim Mongol Pertama Penyelamat Dunia Islam

SELASA, 07 APRIL 2020 | 15:40 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

BERKE Khan merupakan salah seorang cucu dari sang pendiri dinasti Mongol, yakni Jengis Khan dari putranya yang bernama Jochi Khan.

Berke berkuasa pada (1257-1266) di wilayah yang diwariskan kakaknya yang bernama Batu Khan, meliputi Rusia, Bulgaria, Rumania, dan wilayah Kaukasus. Ia sendiri kemudian memperluas kekuasaannya sampai ke Polandia, dan Lithuania.

Berke Khan bersama Batu Khan mendapatkan mandat untuk menaklukan Eropa Timur, saat cucu Jengis Khan lain yang bernama Hulaghu Khan (dari ayah Tolui) mendapatkan tugas untuk menaklukan Asia Tengah dan Timur Tengah yang waktu itu menjadi wilayah kekuasaan muslim.


Dalam perjalanannya menuju Rusia, rombongan Berke yang menggunakan Jalur Sutra melewati Kota Bukhara, berpapasan dengan kafilah pedagang muslim. Pasukannya lalu menginterogasi mereka, dan Berke sangat terkesan oleh keberanian, ketenangan, dan ketangkasan seorang ulama yang menjadi juru bicaranya dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Berke kemudian memeluk Islam.

Ia sangat marah mendengar berita kebrutalan yang dilakukan sepupunya saat menaklukan dinasti Abbasiyah dengan pembantaian penduduknya yang tidak berdosa, merusak warisan ilmu yang dimiliki, serta menghancurkan berbagai bangunan bersejarah.

Setelah menaklukan Bagdad, Hulaghu dan pasukannya melanjutkan ekspidisinya ke Syria, kemudian memasuki Kota Damaskus tanpa perlawanan, karena Dinasti Ayubiyah yang merupakan penerus Salahuddin Al Ayyubi menyerah tanpa perlawanan.

Saat akan melanjutkan ekspidisinya ke Mesir, dengan cara yang sama Hulaghu mengirim surat melalui utusan, yang isinya meminta Sulthan Mesir untuk menyerah, jika tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan keluarga Muhtasim di Bagdad.

Syaifudin Qutuz yang waktu itu sebagai Sulthan dari Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir, marah menerima ancaman yang bernada melecehkan dirinya, ia lalu membunuh sang utusan.

Menyadari negaranya berada dalam ancaman pasukan Mongol, Qutuz lalu mengajak seorang panglima keturunan budak yang berkali-kali mengalahkan tentara Salib dalam berbagai pertempuran bernama Baibar.

Pada saat pasukan Mongol mulai menyusun rencananya meyerbuan ke Mesir, Hulaghu menerima berita bahwa saudaranya Monk yang menjadi orang nomor satu pada Dinasti Mongol meninggal dunia.

Karena khawatir pergantian kekuasaan berjalan tidak mulus, dan dirinya yang tidak berminat pada jabatan politik, akan sangat menentukan suksesi. Hulaghu memutuskan untuk kembali ke negerinya. Sedangkan tanggungjawab penyerbuan ke Mesir sekaligus sebagai Panglima Perang diserahkan kepada Qitbuka.

Sementara Qutuz dan Baibar terus mendiskusikan strategi, taktik, termasuk memilih medan perang yang tepat. Qutuz kemudian menerima informasi perkembangan yang terjadi pada pasukan Mongol termasuk kepulangan Hulaghu dan penugasan Qitbuga sebagai Panglima, kemudian menyimpulkan saat itulah waktu yang tepat.

Qutuz yang hanya memiliki sekitar 24.000 pasukan termasukan pasukan cadangan (bandingkan dengan pasukan Mongol yang berjumlah lebih dari 100.000), meminta sekitar 10.000 pasukannya menjaga Kota Kairo. Sekitar 15.000 pasukannya lalu berangkat menyusuri pantai ke arah Utara melewati Kota Gaza dan berhenti di Kota Acre.

Menyadari kalah banyak dalam jumlah pasukkan, Qutuz dan Baibar yang lebih menguasai medan, menempatkan para pemanah dan sebagian pasukannya di sekitar hutan berbukit berbentuk setengah lingkaran menyerupai bulan sabit. Di tempat inilah Talut pernah mangalahkan Jalut (David vs Goliat). Sementara sebagian lagi ditugasi untuk mencegat pasukan Mongol di jalan antara Damaskus-Kairo.

Saat pasukan Mongol tiba di Galilea, mereka disergap pasukan berkuda yang didukung invantri yang dipimpin oleh Baibar. Dalam pertempuran, pasukan Baibar terus-menerus mundur secara teratur ke arah Ain Jalut.

Sesampainya di Ain Jalut pasukan Mongol terkesiap dan baru menyadari jika mereka terperangkap di wilayah yang sempit sehingga tidak mudah melakukan manuver. Pasukan pemanah yang sudah menunggu langsung menghujani mereka dengan anak panah dari bukit yang berada di kiri dan kanan. Disamping diuntungkan oleh posisi tinggi, pasukan pemanah juga dilindungi oleh rimbunnya pohon.  

Saat pasukan Mongol kacau, pasukan yang dipimpin oleh Qutuz turun dari ketinggian bukit menyergap mereka, sehingga Qitbuga sang panglima tertangkap dan langsung dieksekusi. Kematian sang pemimpin menyebabkan pasukan Mongol mengalami demoralisasi, lalu tunggang-langgang meninggalkan arena untuk menyelamatkan diri.

Saat Hulaghu kembali setelah berhasil menempatkan saudaranya Kubilai Khan sebagai orang nomor satu, ia diberitahu peristiwa yang dialami pasukan Mongol saat hendak menaklukan Mesir. Ia sangat marah bercampur bersedih. Marah karena ini untuk pertama kali pasukannya menderita kekalahan, dan bersedih karena kehilangan panglima yang sangat dibanggakannya.

Ia kemudian mempersiapkan pasukan yang sangat besar untuk membalas dendam. Mendengar rencana ini, Baibar lalu meminta bantuan Berke Khan. Berke dan pasukannya lalu menghadang pasukan Hulaghu Khan di wilayah antara laut Hitam dan laut Kaspia di sekitar sungai Terek.

Hulaghu yang mendapatkan pukulan dari sepupunya sendiri, dan besarnya kerugian yang dialaminya baik dalam bentuk moral maupun jumlah pasukan yang terbunuh, menyebabkannya tidak pernah bisa bangkit kembali, ia kemudian sakit dan menemui ajalnya pada tahun 1265, di Maragheh, Iran saat ini.

Buku-buku sejarah selalu menceritakan kehebatan tentara Mamluk Mesir yang dipimpin Qutus dan Baibar dalam pertempuran di Ein Jalud sebagai penyelamat dunia Islam dari kebrutalan bangsa Mongol, dan cendrung melupakan jasa Berke Khan. Padahal tanpa pertolongannya, bukan mustahil jalannya sejarah akan berbeda dari yang kita baca saat ini. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya