Berita

Pasien corona/Net

Publika

Pasien Positif Corona, Jumlah Terdeteksi Atau Jumlah Kemampuan Mendeteksi?

JUMAT, 03 APRIL 2020 | 09:27 WIB | OLEH: HENDRA J. KEDE

PRESIDEN Amerika Serikat mengumumkan kasus pertama kematian akibat positif corona tanggal 1 Maret 2020 dengan jumlah pasien positif corona sebanyak 22 (dua puluh dua) orang.

Sehari kemudian, Presiden Republik Indonesia mengumumkan kasus pertama positif corona pada tanggal 2 Maret 2020 dengan jumlah pasien positif corona sebanyak dua orang.

Sampai tulisan ini dibuat jumlah pasien positif corona di seluruh Amerika Serikat lebih dari 215.000 (dua ratus lima belas ribu) orang dengan angka kesembuhan sekitar 8.800 (delapan ribu delapan ratus) orang dan angka kematian hampir mencapai 5.000 (lima ribu) orang. Jumlah pasien positif corona di Amerika Serikat sudah melampaui negara manapun di dunia.


Sementara jumlah pasien positif corona di Indonesia per tanggal 2 April 2020 sebanyak 1.790 (seribu tujuh ratus sembilan puluh) orang dengan angka kesembukan 112 (seratus dua belas) orang dan angka kematian 170 (seratus tujuh puluh orang) orang.

Menggunakan asumsi bahwa kesembuhan pasien positif corona merupakan hasil tindakan medis yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sementata bahwa sistem dan sumber daya yang dimiliki Amerila Serikat memiliki kemampuan menyembuhkan pasien positif corona pada kisaran 4,09 persen dari jumlah seluruh pasien positif corona. Dan angka prosentase kematian sebesar 2,33 persen.

Menggunakan asumsi yang sama maka kesimpulan sementara untuk Indonesia adalah sistem dan sumber daya yang dimiliki Indonesia memiliki kemampuan menyembuhkan pasien positif corona pada kisaran 6,26 persen dari seluruh pasien positif corona. Dan angka prosentase kematian sebesar 9,50 persen.

**

Kenapa penulis memilih Amerika sebagai pembanding dalam membuat tulisan ini? Tentu bukan karena kesamaan kemampuan keuangan dan kemampuan sumber daya kesehatan antara Indonesia dan Amerika. Tidak sama sekali. Amerika sangat jauh diatas Indonesia.

Penulis memilih Amerika Serikat semata-mata karena Indonesia dan Amerika memiliki beberapa kemiripan khususnya kesamaan kebijakan dalam menghadapi pandemi corona ini.

Waktu terdeteksi adanya warga kedua negara yang positif terinveksi virus corona sebagai pasien positif corona hampir bersamaan dan diumumkan oleh masing-masing Presiden selang sehari.

Jumlah penduduk Indonesia dan Amerika Serikat relatif mirip yaitu pada kisaran tiga ratusan juta penduduk.

Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama menerapkan social distancing atau physical distancing untuk mengendalikan penyebaran virus corona, sama-sama menolak menerapkan opsi lockdown sebagaimana diterapkan banyak negara di dunia.

Penduduk Indonesia dan penduduk Amerika Serikat sama-sama bebas bergerak dan berkumpul selama dua puluh empat jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.

***

Data di atas memperlihatkan bahwa walaupun prosentase pasien positif corona yang sembuh di Indonesia (6,26 persen) lebih tinggi di banding Amerika Serikat (4,09 persen) namun prosentase kematian justru sangat jauh bertolak belakang, Indonesia hampir empat kali lipat (9,50 persen) dibanding Amerika Serikat (2,33 persen).

Fenomena ini memang sulit penulis pahami jika menggunakan asumsi bahwa kesembuhan dan kematian karena faktor tindakan medis yang diambil terhadap pasien positif corona.

Apakah karena jumlah pasien positif corona Indonesia yang hanya 0,83 persen dari jumlah pasien positif corona di Amerika Serikat sehingga petugas kesehatan bisa lebih fokus dibanding petugas kesehatan Amerika Serikat? Penulis tidak tahu dan tidak berani juga menyimpulkan demikian.

Penulis tidak tahu dan tidak berani menyimpulkan demikian karena semua orang mengetahui bahwa sumber daya kesehatan Amerika Serikat jauh lebih baik dibanding sumber daya kesehatan Indonesia, bahkan ada yang mengatakan sumber daya kesehatan Amerika Serikat adalah yang terbaik di dunia.

Fenomena lain yang juga sulit dijelaskan adalah jumlah pasien positif corona Indonesia yang jumlahnya 'hanya' sekitar 0,83 persen saja dibanding jumlah pasien positif corona Amerika Serikat yang sudah mencapai lebih 215.000 (dua ratus lima belas ribu) orang.

Faktor apa yang menyebabkan penularan cirus corona sedemikian besarnya di Amerika Serikat dibanding Indonesia padahal beberapa realitas dan kebijakan yang diambil kedua negara hampir mirip. Sudah beberapa waktu penulis mencoba mencari jawaban atas fenomena ini namun belum ketemu juga jawaban yang memuaskan.

Kalau ada pembaca budiman yang bisa menjelaskan, penulis akan sangat berterima kasih sekali.

***

Sampai disini, saat menelusuri dunia maya untuk mencari data sumber daya kesehatan yang dimiliki Indonesia dan Amerika Serikat, dibenak penulis timbul dua pertanyaan menggelitik.

Pertanyaan pertama. Apakah Amerika Serikat mampu mendeteksi sampai 215.000 (dua ratus lima belas ribu) warganya yang positif terinfeksi virus corona sebagai pasien positif corona karena sumber daya kesehatannya yang sangat maju dan budaya kesadaran masyarakatnya untuk memeriksakan diri jika memiliki gejala terinfeksi virus corona sangat tinggi?

Pertanyaan dedua. Apakah Indonesia hanya mampu mendeteksi sampai 1.790 (seribu tujuh ratus sembilan puluh) warganya yang positif terinfeksi virus corona sebagai pasien positif corona karena sumber daya kesehatan Indonesia yang terbatas dan budaya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri jika memiliki gejala terinfeksi virus corona yang rendah, atau memang karena memang begitu realitas jumlah pasien positif corona sebenarnya?

Penulis tidak bisa menemukan dan memberikan jawaban pasti atas dua pertanyaan diatas. Namun ada satu pertanyaan lagi yang muncul di benak penulis dan ingin penulis tanyakan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dari sisi Keterbukaan Informasi Publik sebagai mana diatur dalam Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informas Publik.

Kedua pertanyaan diatas ini semakin menggelitik rasa ingin tahu penulis setelah penulis membaca pernyataan dari dua pejabat resmi negara yaitu Gubernur DKI Jakarta saat rapat virtual dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Rabu (1/4) dan siaran pers Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono, pada hari yang sama.

Divisi Humas Mabes Polri menyampaikan bahwa ada sekitar 300 (tiga ratus) siswa Sekolah Pembentukan Perwira Setukpa Lembaga Pendidikan Polri (Setukpa Lemdikpol) Sukabumi, Jawa Barat hasil rapid tes dinyatakan terpapar Covid-19, walaupun belum bisa dinyatakan sebagai pasien positif corona.

Gubernur DKI Jakarta melaporkan kepada Wakil Presiden bahwa ada 401 (empat ratus satu) orang di DKI Jakarta yang telah meninggal dan dimakamkan dengan protap pemakaman pasien positif corona, walaupun tidak semuanya sebelum meninggal sudah dinyatakan sebagai pasien positif corona.

Rasa ingin tahu yang begitu menggelitik penulis adalah sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Jurubicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Apakah jumlah pasien positif corona yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 merupakan jumlah orang yang terdeteksi atau jumlah orang yang hanya mampu terdeteksi oleh sumber daya kesehatan Indonesia?

Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya