Berita

Achmad Yurianto/Net

Politik

Keceplosan Sebut Si Kaya Dan Si Miskin, Pakar: Kompetensi Achmad Yurianto Memang Tidak Linear

MINGGU, 29 MARET 2020 | 10:24 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Jurubicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto kembali mengeluarkan pernyataan yang blunder saat memberikan pesan agar masyarakat Indonesia tetap berada menjaga jarak di saat pandemi virus corona baru atau Covid-19.

Pernyataan yang blunder tersebut adalah saat Yurianto menyebut yang miskin harus melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya. Pernyataan itu disampaikan Ahmad Yurianto saat menyampaikan perkembangan penyebaran Covid-19 pada Jumat (27/3) kemarin.

Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing mengatakan, seorang jubir akan kurang produktif melaksanakan tugas jika tidak ditempatkan pada posisi yang tidak linear dengan kompetensinya.


"Satu penggalan isi pesan jubir penanganan Covid-19, Achmad Yurianto (AY), menimbulkan sejumlah pandangan keberpihakan kepada sekelompok masyarakat yang berada pada status sosial belum beruntung secara ekonomi," ucap pakar komunikasi politik itu kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (29/3).

Dari aspek ilmu komunikasi, Emrus menilai penyampaian penggalangan isi pesan tersebut ke ruang publik, Yurianto terlihat belum cukup waktu mempertimbangkan aspek aksiologi.

Hal itu pun dimaklumi lantaran Yurianto memikul beban tugas yang sangat luar biasa dan kompleks. Selain jadi jubir, Yurianto juga merangkap sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kemenkes.

Selain itu, Emrus pun menilai apa yang disampaikan oleh Yurianto bertujuan ingin menyampaikan makna agar tumbuh kebersamaan, gotong royong, serta saling membantu menghalau penyebaran dan menangani dampak Covid-19 di tengah masyarakat. Sehingga, Yurianto dianggap kurang menyadari muncul kalimat yang membuat heboh di tengah masyarakat.

"Memang bila hanya penggalan pesan yang dimaknai, maka seolah kelompok masyarakat tertentu diposisikan sebagai yang menularkan penyakit. Ketika mengatakan itu, AY (Achmad Yurianto) telah masuk rana interaksi sosial yang bukan bidang utamanya. Sebab, konsep interaksi sosial ada dalam kajian sosiologi dan ilmu komunikasi," terang Emrus.

Sehingga, apa yang disampaikan Yurianto, menurut Emrus, kurang tepat dan kurang bijak di saat kondisi masyarakat tengah dibayang-bayangi dengan penyebaran Covid-19.

"Tampak kurang tepat, karena penyebaran Covid-19 bisa dari siapa kepada siapa, yang sama sekali tidak mengenal kelas sosial ekonomi. Selain itu, virus ini tidak memiliki pikiran dan perasaan, sehingga tidak bisa memilih siapa yang menjadi korbannya," kata Emrus.

"Boleh jadi kurang bijak. Pesan ini memposisikan adanya relasi sosial yang kurang setara. Yang satu berada superior,  yang lain inferior. Dikotomi semacam itu tidak begitu linear dengan tatanan negara demokrasi, seperti di Indonesia," sambungnya.

Dengan demikian, Emrus menyarankan agar Yurianto untuk tetap menyampaikan sesuai kompetensi yang dimilikinya tanpa menyampaikan yang bukan keahlian yang dimiliki.

Ha;-hal yang menyangkut soal kebijakan, aspek sosial dan lainnya dapat diserahkan kepada yang ahlinya atau diadakan Jubir khusus hal tersebut.

"Ketika menyangkut teknis dan akademik terkait dengan Covid-19, misalnya, AY yang menjelaskan. Murni dari aspek keilmuan. Di luar itu, yang sifatnya makro, kebijakan, dan aspek sosial lainnya, maka jubir yang berlatar belakang ilmu komunikasi menyampaikannya," demikian Emrus.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya