Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Publika

Masuknya Virus China Covid-19 Di Indonesia Dan Pertanggungjawabannya

SABTU, 28 MARET 2020 | 12:57 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

BERDASARKAN fakta bukan mencari-cari kesalahan. Mewabahnya virus corona (Covid-19) di Indonesia akibat tidak tanggapnya pemerintah.

Sewaktu gejolak virus di Wuhan, China pada bulan Januari- Februari 2020. Waktu itu heboh dan heroik menyelamatkan warga kita di Wuhan dan dikarantina di Natuna. Dan semua warga tersebut negatif. Pemerintah Tepuk Dada.

Berikutnya makhluk halus tapi ganas masuk ke Singapura dan Malaysia sudah ada korban positif. Bulan Februari negara tetangga Singapura, Malaysia dan Australia mulai sibuk mengawasi yang masuk kenegaranya.


Dan mengagetkan, Arab Saudi melarang umrah dari Indonesia, menutup pintu bandaranya dari Indonesia. Waktu itu para petinggi Indonesia masih petantang-petenteng tidak ada virus Covid-19 di Indonesia.

Pemerintah Indonesia sangat abai. Menyepelekan makhluk halus bernama Covid-19. Tidak kurang Presiden Jokowi menyatakan Indonesia aman dari virus. Para menterinya juga ikut jumawa dengan bercanda ria. Tidak perlu takut dengan makhluk tersebut. Indonesia negara tropis, virus tidak akan bertahan.

Tidak kurang Wapres Mahruf Amin pun komen, cukup dengan doa. Makhluk halus tidak akan menyebar di Indonesia.

Sikap abai Presiden dan para pungawanya menyebabkan longgarnya  sistim skreaning/ pengawasan masuknya arus manusia dari luar negeri (yang dimungkinkan carriercovid-19) dipintu masuk melalui Bandara dan Pelabuhan di seluruh Indonesia. Padahal pasti makhluk halus Covid-19 berasal dari luar negeri.

Banyak negara telah menutup pintu bagi yang masuk ke negaranya. Cilakanya malah Pemerintah memberikan intensif untuk sektor parawisata. Presiden Jokowi mengundang para influencer ke Istana dengan tugas promosi agar wisatawan bisa berbondong-bondong ke Indonesia, dengan biaya Rp 72 miliar.

Lalu arus TKA dari China masuk tetap berjalan, padahal asal virus dari China. Ada kepentingan pejabat tinggi negeri yang kuat dan merangkap pula sebagai pengusaha.

Tentunya ini memang kebijakan edan. Entah siapa yang merasuki, sehingga Presiden Jokowi lemah terhadap investor dari negara China.

Last but not least Indonesia sebagai negara terakhir mengikuti menutup penerbangan yang berasal dari Italia, Iran dan Korsel. Setelah geger di negara tersebut korban bergelimpangan ribuan meninggal.

Semua bentuk kekonyolan yang telah dilakukan para petinggi negeri tentu harus dipertanggungjawabkan. Sekali bukan mengada-ada atau mencari kesalahan. Tapi memang Fakta. Tidak peka terhadap kondisi yang membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan kita di Indonesia tercinta.

Tidak prudent, alias gegabah menyatakan sudah ada obat untuk virus dipesan jutaan, padahal belum direkomendasi oleh badan kesehatan dunia WHO. Beli kit rapid test Covid-19 dari China ternyata oleh para ahli dinyatakan tidak tepat dan akurat. Beberapa negara seperti Norwegia mengembalikan alat tersebut ke China.

Sekarang semua sudah jadi bubur. Sang makhluk halus dari Wuhan tersebut sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia sudah meliputi 27 provinsi.

Kekuatiran negara lain terhadap kemampuan pemerintah Indonesia menyeruak. Teriakan para ahli kesehatan dan cerdik pandai di Indonesia untuk segera pemerintah bertindak cepat. Kepala daerah sudah sangat kuatir. Ternyata yang dihadapi adalah Presiden yang koppig. Keras kepala. Tidak setuju dengan lockdown.

Banyak kepala negara lainnya sudah melakukan lockdown. Hanya sedikit yang tidak, karena mereka punya pasukan dan alat canggih. Seperti Korsel. Itupun negaranya tidak begitu luas.

Ada Menteri Kesehatan di negara lain karena tidak sanggup mengundurkan diri. Seharusnya Menteri Kesehatan Indonesia jika tidak bermalu. Jangan tetap ngotot bertahan.

Begitu juga Presiden Jokowi jika lamban, gegabah dan keras kepala. Memang sebaiknya dengan kerelaan Presiden mundur, sebagai pertanggungjawaban keteledoran dan ketidakmampuan.

Penulis adalah pemerhati kebijakan publik, aktivis pergerakan 77-78.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya