Berita

Neanderthal/Net

Dunia

Mencari Sejarah Lewat DNA

RABU, 25 MARET 2020 | 21:18 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Bagi beberapa orang, mengetahui asal usul dirinya mungkin bukan lah hal yang penting. Sejarah biar lah menjadi sejarah, bagi mereka.

Namun, bagi beberapa orang lainnya, sejarah, warisan genetik adalah hal yang juga perlu diketahui.

Bukan hanya untuk memenuhi hasrat penasaran, namun juga bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan.


Lalu, siapa kah leluhur kita? Bagaimana kita bisa mengetahuinya?

Di zaman ini, mencari sejarah bukan lagi soal menggali tulang belulang.

Mungkin itu dulu diperlukan. Namun, saat ini kita sudah memiliki suatu teknologi. Big data dan cloud computing.

Dari teknologi tersebut, tim ilmuan internasional mendapatkan penemuan yang mengejutkan.

Di antara leluhur kita, ada dua kelompok hominin prasejarah yang sebelumnya tidak dikenal.

Manusia purba ini dikenal sebagai Denisovan. Mereka punah sekitar 30.000 tahun yang lalu. Tidak lebih terkenal dari Neanderthal.

Seperti halnya Neanderthal, Denisovan hidup berdampingan, menikah, dan meninggalkan warisan genetik yang diturunkan dalam DNA manusia saat ini.

Temuan ini bukan mucul dari menggali kuburan kuno. Melainkan melakukan pengujian terhadap darah sekitar 300 orang di pulau-pulau sekitar Indonesia, New Guinea, dan Pasifik.

Berdasarkan sampel yang dikumpulkan secara sukarela, dilakukan sekuensing genom selama dua tahun. Hasilnya kemudian dimasukan ke dalam analisa di cloud.

Meski penelitian ini cukup melelahkan, namun hasilnya tidak terduga. Sampel menunjukkan terdapat materi genetik Denisovan kuno yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.

Lebih mengejutkan lagi, penemuan tersebut didapatkan dalam jumlah signifikan dari orang Papua.

Sebelumnya, para ilmuan sendiri hanya mengetahui satu jenis Denisovan yang diidentifikasi dari tulang yang ditemukan di gua sebuah gunung di Siberia pada 2010.

Namun, penemuan Denisovan baru ini justru ditemukan ribuan kilometer jauhnya di antara orang-orang di Asia Tenggara.

“Kami mengidentifikasi dua kelompok baru. Jadi sekarang kita tahu tiga jenis Denisovans,” kata profesor dari Massey University, Prof. Murray Cox.

“Mereka semua sangat berbeda dari Neanderthal, dan sangat berbeda satu sama lain. Apa yang kami temukan berarti bahwa asal usul orang modern jauh lebih beragam dan kompleks daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya," lanjutnya.

Selain menambah pemahaman kami tentang bagaimana kami berevolusi, pekerjaan tim menunjukkan seberapa cepat proses ilmiah berubah dengan adopsi teknologi digital baru.

“Saya seorang ahli biologi komputasi. Saya mengembangkan program, kode, algoritma, dan statistik untuk masuk ke kumpulan data besar dan menarik informasi yang kita butuhkan untuk menjawab pertanyaan," kata Cox.

“Biologi telah berubah. Dulu sekitar sejumlah kecil data di laboratorium yang memberikan informasi secara perlahan. Tapi itu telah berubah secara radikal dalam 10 atau 15 tahun terakhir," lanjutnya.

Penemuan Denisovan ini sendiri didasarkan pada model statistik yang dibuat oleh Cox dan rekan-rekannya dan dijalankan dengan Microsoft Azure.

"Azure bekerja dengan baik untuk kita. Itu memiliki skalabilitas dan fleksibilitas. Ini memberi kita kebebasan untuk bekerja dengan kecepatan yang kita butuhkan untuk mendapatkan jawaban," ujar Cox.

Dengan adanya penemuan ini, penelitian medis juga berlanjut. Saat ini, dikatakan oleh Kepala Peneliti di Eijkman Institute for Molecular Biology di Jakarta, Dr. Pradiptajati Kusuma, ia dan timnya tengah menggali lebih dalam mengenai bagaimana atribut genetik tersebut dapat mempengaruhi dampat obat terapeutik, atau resistensi parasit dan kejadian penyakit tidak menular.

Untuk mendapatkan sampel darah, mereka juga menawarkan pemeriksaan kesehatan pada warga.

Cox mengatakan temuan keragaman Denisovan sudah membuahkan hasil, misalnya, dalam kasus beberapa pasien kepulauan Pasifik yang menderita gangguan autoimun.

“Kami memutarbalikkan bahwa gen yang menyebabkan gangguan ini berasal dari Denisovan. Dan sejak kami menyadari itu, orang-orang medis telah mengembangkan perawatan baru karena mereka tahu apa varian genetiknya," ujarnya.

Jadi ketika kita berbicara tentang Neanderthal dan Denisova, mungkin mudah untuk berpikir, bahwa itu semua di masa lalu, itu semua hanya sejarah.

Namun sebenarnya, varian genetik yang dibawa orang dari hominin purba ini secara langsung memengaruhi kita.

“Ini adalah sejarah yang sangat hidup. Hidup di sel kita," imbuhnya seperti dimuat Microsoft.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya