Berita

Ilustrasi panic buying/Net

Publika

Kegilaan Dan Konstruksi Konsumtifisme

RABU, 25 MARET 2020 | 17:45 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KERANJINGAN belanja. Perilaku berbelanja secara berlebihan -eksesif, terjadi sebagai bentuk dari konstruksi gaya hidup konsumtif.

Seolah meneguhkan slogan "saya berbelanja, maka saya ada". Kondisi ini mengilustrasikan bila aktivitas belanja telah berubah menjadi penanda eksistensi.

Perilaku impulsif, tercipta melalui konstruksi media. Secara alamiah, konteks ekonomi dilandaskan pada kepentingan produksi, distribusi dan konsumsi. Manusia menetapkan kebutuhan dasarnya.


Kini, keinginan melebihi kebutuhan. Pada posisi tersebut, kita memahami proses komodifikasi, mengubah nilai guna menjadi nilai tukar, dengan imbuhan nilai simbol.

Merek kemudian menjadi simbol pembeda. Status sosial dalam mengonsumsi merek, menciptakan sekat kasta sosial baru. Simbol dari merek, membuat produk melebihi aspek fungsional dan estetik.

Para produsen, menciptakan kesadaran semu di benak publik tentang kenikmatan. Psikologis publik dibentuk melalui pendekatan harga diri -pride.

Barang-barang bermerek -branded, mewah -exclusive dan terbatas -limited, seolah menjadi label mujarab yang turut mendongkrak nilai harga diri bagi konsumennya.

Medan Simulasi

Memahami para penggila belanja, yang kecanduan berbelanja merupakan fenomena baru dari wajah modernitas. Hal ini harus mampu dilihat dari bagaimana konstruksi itu dibentuk hingga pada level alam bawah sadar.

Media memiliki peran signifikan. Teks media melalui mekanisme periklanan, menciptakan hasrat yang membujuk publik, mempersepsikan sebuah nilai merek. Hal itu terlihat pada kajian Yolanda Stellarosa, Kecanduan Belanja, Budaya Konsumerisme dalam Teks, Pustaka Indigo, 2020.

Bila dikaitkan dengan hierarki kebutuhan, berbekal teori Maslow, memperlihatkan tingkat kebutuhan yang berbeda dari para pecandu belanja -shopaholic, level kebutuhan mereka berada di tingkat puncak, pada pengakuan -self esteem hingga aktualisasi diri -self actualization.

Melalui teks media, konstruksi merek diciptakan. Berbagai program dalam narasi teks media diciptakan untuk membentuk kesadaran baru. Publik menelan konstruksi tersebut sebagai hal alamiah.

Realitas semu tertanam, hingga di alam bawah sadar. Perilaku kegilaan berbelanja, membeli dan hidup konsumtif, semakin kompleks dengan kehadiran sosial media, menjadi platform sharing yang mengagungkan gengsi.

Konsumen menjadi objek simulasi dalam ruang ilusi. Keinginan distimulasi menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Diskon dan sale menjadi mantra sihir. Hipnotis melalui persuasi media, menyulap kesadaran.

Memiliki Atau Menjadi

Keberadaan kegilaan berbelanja, mengingatkan kita pada tokoh Ratu Marie Antoinette dalam Revolusi Perancis 1789. Sang ratu terkenal dengan hidup boros, gemar berpesta pora, menjalani kehidupan secara glamour.

Sebelum akhirnya pecah Revolusi Prancis, Antoinette menyusun etiket makan. Tata cara yang ditujukan untuk mengatur bagaimana urutan makan ala bangsawan, berbanding terbalik dengan situasi publik yang justru kelaparan di sekeliling istana.

Hal ini jelas membawa kita pada pertanyaan penting yang diajukan oleh Erich Fromm, apakah memiliki -to have, ataukah menjadi -to be?

Berbelanja dalam kepentingan peningkatan status, yang seolah ditentukan oleh keharusan kepemilikan, menciptakan kegilaan. Mendorong sentimen egoisme individualitas. Menjauhi fitrah sosialnya.

Padahal sejatinya, manusia seharusnya bergerak dari memiliki berubah menjadi, terkhusus menjadi manusia yang berkeprikemanusiaan. Memiliki makna dalam keberadaannya bagi lingkungan dan sesama.

Kegilaan pemenuhan pribadi ini, kini terlihat dalam kondisi aktual, sebagaimana wabah Covid-19. Kepanikan melanda, berorientasi pada kepentingan individu. Hingga alat perlindungan diri bagi tenaga medis pun diborong publik, bentuk kegilaan lain.

Maka peran teks media kembali berpulang, untuk melakukan dekonstruksi ulang kesadaran publik. Menyadarkan bila kebermaknaan kita, hanya bisa terjadi bila kita memilih untuk menjadi manfaat bagi lingkup sosial kita. Semoga wabah ini berlalu.

Penulis sedang menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya