Berita

Ubaedillah Badrun/Net

Politik

WABAH VIRUS CORONA

Pengamat: Pemerintah Tinggal Pilih Selamatkan Ekonomi Atau Nyawa Rakyat

KAMIS, 19 MARET 2020 | 15:27 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Rakyat Indonesia ditengah wabah virus corona atau Covid-19 dinilai membutuhkan pemimpin yang mampu bertindak secara cepat dan tepat saat menghadapi Covid-19 di Indonesia.

Direktur Eksekutif Center for Social, Political, Economic and Law Studies (CESPELS), Ubedilah Badrun mengatakan, penyebaran Covid-19 di Indonesia sulit diprediksi.

Apalagi, pemerintah baru hanya melakukan tes deteksi Covid-19 sekitar 1500 orang dari 267 juta penduduk Indonesia. Sementara, jumlah yang terkena Covid-19 meningkat hingga 100 persen dalam satu pekan.


Ubedilah menilai, pemerintah saat ini tinggal memilih untuk mengatasi problem ekonomi ataupun lebih memprioritaskan penyelamatan nyawa jutaan rakyat.

"Sebenarnya rezim saat ini tinggal memilih diantara atasi problem ekonomi (anjloknya nilai rupiah dan indeks harga saham) atau menyelamatkan nyawa jutaan rakyat?," ucap Ubedilah kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (19/3).

Jika lebih mengutamakan keselamatan rakyatnya, Presiden Jokowi diharapkan untuk menghentikan perdagangan saham ataupun pembangunan infrastruktur jika tidak menginginkan melakukan lockdown.

"Hentikan perdagangan saham, hentikan pembangunan infrastruktur atau lockdown?. Pada titik ini bukan waktunya lagi terlalu lamban atas nama kehati-hatian, tetapi dibutuhkan kebijakan yang berani untuk mengambil resiko dari dua pilihan," tegasnya.

Bahkan, Ubedilah pun mengkritik pernyataan Juru Bicara (Jubir) Presiden, Fazrul Rachman yang menyebut mengambil keputusan harus hati-hati.

"Jadi pernyataan jubir Fazrul Rachman itu pernyataan ilmu manajemen 15 tahun lalu yang untuk mengambil keputusan sangat dominan sikap hati- hati. Padahal saat ini situasi darurat, dalam situasi darurat harus berani mengambil keputusan yang beresiko," jelasnya.

Sehingga, Ubedilah menilai saat ini rakyat Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang berani mengambil resiko. Bukan pemimpin yang lelet dalam menghadapi segala ancaman rakyatnya.

"Dan karenanya membutuhkan kepemimpinan yang berani ambil resiko, tidak lelet. Keburu banyak korban jiwa rakyat Indonesia," pungkasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya