Berita

Ustaz Dasad Latif/Net

Politik

Ustaz Dasad Latif: Maaf Saya Harus Berkata, Banyak Yang Nilai Negara Tidak Beri Informasi Benar Soal Corona

RABU, 18 MARET 2020 | 13:08 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Kepanikan penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia diakibatkan karena Pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin tidak memberikan informasi yang benar.

Begitu yang disampaikan oleh Ustaz Dasad Latif saat menjadi narasumber di Realita TV yang diunggah hari ini Rabu (18/3).

Menurut Ustaz Dasad, kepanikan masyarakat merupakan hal yang manusiawi. Namun, orang yang beriman tidak akan panik lantaran itu bukan solusi menghadapi ancaman nyawa.


“Jadi sebaik yang kita lakukan adalah mawas diri atau mempersiapkan segala sesuatu yang bisa menyelamatkan jiwa," ujar Ustaz Dasad Latif.

Panik sendiri kata Ustaz Dasad tidak akan menyelesaikan masalah. Namun yang harus dilakukan adalah tabayun atau melakukan check and recheck terhadap sumber yang mumpuni soal virus corona.

Dia lantas menyinggung banyaknya orang yang kemudian secara tiba-tiba mengaku sebagai ahli kesehatan.

“Banyak orang tiba-tiba ahli di bidang virus. Padahal belum tentu benar secara klinik. Maka yang baik adalah kita mencari orang yang ahli di bidangnya. Lalu kita tahu apa yang sebenarnya masalah ini, setelah itu kita antisipasi," jelasnya.

Sumber informasi yang benar, kata Ustaz Dasad, seharusnya berasal dari pemerintah pusat. Untuk itu, pemerintah seharusnya membuka pusat informasi tentang corona.

"Mestinya setelah kejadian ini, pemerintah membuka pusat informasi tentang corona, ini mesti ada, bukan juru bicara, (tapi) pusat Informasi. Buka situsnya bikin web, bikin Instagram supaya orang yang ingin mengetahui hal ini langsung ke pusat informasi itu," terangnya.

Namun kenyataannya kata Ustaz Dasad, pemerintah malah memberikan informasi yang tidak benar seperti beberapa pernyataan para menteri Jokowi atau Jubir Covid-19 yang sering menyampaikan informasi yang keliru.

"Mohon maaf saya harus berkata, justru banyak yang menilai seolah-olah negara tidak memberikan informasi yang benar. Kita melihat beberapa kasus, pejabat ini ngomong ini, pejabat ini ngomong ini, jadi kita kan bingung. Sudah kita bingung panik dengan corona tambah lagi ketidakpastian," tegasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya