Berita

Jose Antonio Belo/RMOL

Publika

Karena Keris Diponegoro

RABU, 11 MARET 2020 | 09:10 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

KABAR gembira itu kini menuai perdebatan. Antara lain, apakah yang dikembalikan itu adalah benar-benar keris Pangeran Diponegoro yang digondol Belanda?

Kening awam berkernyit. Tertekuk-tekuk. Kini ada dua keris yang dibicarakan. Keris Naga Siluman dan Keris Nagasasra. Belum tertutup kemungkinan, nama-nama keris yang dikatakan sakti mandraguna lainnya akan segera bermunculan. Milik pangeran ini dan pangeran itu.

Konon, keris yang dimiliki Pangeran Dipnegoro adalah Keris Naga Siluman. Tetapi konon pula yang dikembalikan Keris Nagasasra.


Saya yang awam tak paham.

Tapi soal keris milik Pangeran Diponegoro ini mengingatkan saya pada seorang sahabat dari Timor Leste, Bung Jose. Nama lengkapnya, Jose Antonio Belo. Wartawan senior dari negeri tetangga Timor Leste.

Di era revolusi fisik, Bung Jose menjadi bagian dari kelompok insurgency. Beberapa kali ditangkap pasukan ABRI. Beberapa kali bisa melarikan diri.

Saya pernah mengatur “reuni” Bung Jose dengan seorang mantan perwira tinggi ABRI. Sang pati masih ingat Jose. Jose pun sudah barang tentu demikian.

Mereka tertawa-tawa dalam pertemuan itu. Mengenang masa-masa yang telah lalu. Senang melihatnya.

Bung Jose juga pernah memperkenalkan saya kepada Jenderal Taur Matan Ruak, saat ia masih menjadi Panglima Tentara Timor Leste. Bung Jose lah yang berbisik kepada saya bahwa Jenderal Matan Ruak akan segera mengundurkan diri dari posisi tertinggi di tentara Timor Leste untuk maju dalam pemilihan presiden.

Dan, Jenderal Taur Matan Ruak yang punya mata seperti elang itu menang dalam pilpres 2012. Ia menjadi kepala negara sampai 2017.

Kemudian, sejak 2018 sampai akhir Februari lalu ia menjadi Perdana Menteri Timor Leste.

Suatu hari Bung Jose kembali mengunjungi Jakarta. Kepada saya dia berkata, hendak menemukan senjata milik Nicolau dos Reis Lobato.

Lobato adalah pejuang suci Timor Leste. Lahir di Bazarete, Liquisa, 24 Mei 1946, ia merupakan salah seorang pendiri ASDT yang kelak bermetamorfosis menjadi Fretelin.

Setelah Portugis memutuskan angkat kaki dari Timor Leste, Fretelin memproklamasikan kemerdekaan negara di sisi timur Pulau Timor itu. Pada 25 November 1975 Lobato diangkat sebagai Perdana Menteri. Lalu menjadi Presiden seminggu kemudian sampai Desember 1978.

Jabatan Perdana Menteri dilepaskannya pada 7 Desember 1978. Sementara 31 Desember di tahun itu juga, ia tewas  dalam sebuah pertempuran di pedalaman Timor Leste.

Jenazahnya dibawa ke Dili. Tapi senjatanya tidak ditemukan.

Senjata inilah yang hendak ditemukan sahabat saya, wartawan senior Timor Leste, penyuka rendang, Bung Jose.

Apakah Bung Jose tahu ciri-ciri senjatanya, tanya saya.

Bung Jose menjelaskan satu dua detil, yang sekarang saya sudah lupa. Belum lagi, saya pun awam soal senjata.

Saya ajak Bung Jose ke Museum Satria Mandala di Jalan Jenderal Gatot Subroto. Bangunan ini diresmikan sebagai museum di tahun 1972. Sebelumnya gedung ini dikenal sebagai Wisma Yaso, kediaman Ratna Sari Dewi Sukarno.

Selama 18 bulan terakhir hidupnya, dihabiskan Bung Karno sebagai tahanan di Wiswa Yaso ini setelah ia diizinkan meninggalkan Bogor yang dingin. Bung Karno menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, 21 Juni 1970.

Saya dan Bung Jose mengamati satu persatu senjata yang dipamerkan di museum itu. Dia lebih paham soal senjata. Beberapa kali dia berhenti, menjelaskan satu dua senjata, yang kini saya pun sudah lupa.

Saya tak tahu pasti apa yang dicari. Sampai di ujung waktu, Bung Jose berkata: tidak ada di tempat ini.

Ini cerita di tahun 2011. Saya tak tahu apakah setelah itu upaya menemukan senjata Lobato masih terus dilakukan.

Atau jangan-jangan sudah ditemukan.

Bung Jose, tolong ceritakan. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya