Berita

Anton Tabah/Net

Politik

Jokowi Bicara Presiden RI Nonmuslim, Anton Tabah: Pemimpin Itu Harus Peka Rasa Dan Hati

SELASA, 10 MARET 2020 | 21:00 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Siapapun bisa menjadi Presiden Republik Indonesia, termasuk sosok dari kalangan nonmuslim. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sebuah wawancara eksklusif bersama dengan BBC Indonesia beberap waktu lalu.

Sontak, pernyataan Presiden Joko Widodo ini menuai kritik keras dari Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anton Tabah Digdoyo.

"Orang cerdas apalagi pemimpin itu harus peka rasa, peka hati. Orang bodoh kebalikannya, tak peka rasa tak peka hati, bahkan mati rasa. Maka falsafah Jawa ada ajaran ngono yo ngono ning ojo ngono," kata Anton Tabah kepada redaksi, Selasa (10/3).


Menurutnya, pernyataan Presiden Jokowi tak elok lantaran selain mayoritas masyarakat muslim, saat ini Indonesia juga sedang dihadapkan dengan beragam masalah. Publik tanah air juga saat ini sedang mengalami fenomena distrust atau ketidakpercayaan kepada pemerintah.

Ia pun mengkritisi tim komunikasi di balik sosok mantan Gubernur DKI Jakarta itu yang dianggap kurang cakap dalam melihat situasi dan kondisi terkini.

Hal lain yang tak kalah dikritisi adalah keputusan Presiden Jokowi yang kembali 'menghidupkan' nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masuk dalam kandidat Kepala Otoritas Ibukota Negara (IKN). Padahal, masyarakat belum lupa dengan kasus penistaan agama yang menimpa Ahok dan berujung ke jeruji besi.

"Dalam perspektif komunikasi politik maupun sosial, Jokowi seperti menentang arus, memantik kemarahan sosial. Seperti tak ada orang saja, bekas penista agama dijadikan pemimpin," tegasnya.

Jokowi juga harus memegang teguh falsafah Jawa, yakni angon angin (mencari waktu yang terbaik). Menurutnya,NKRI adalah negara muslim terbesar di dunia, di mana bangsa lain akan menghormati mayoritas.

"Perkataan (Jokowi) tidak tepat, sangat kontraproduktif karena kerakyatan kebangsaan dan kenegaraan tak cuma dibangun dengan hukum hitam putih, tapi juga filosofis sosiologis apa yang hidup di tengah-tengah masyarakat harus dipertimbangkan bukan asal-asalan lalu semau gue," tandasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya