Berita

Yaya Nur Hidayati/Net

Politik

Walhi Ogah Hadiri Undangan Istana Terkait Omnibus Law Ciptaker

SELASA, 03 MARET 2020 | 12:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menolak menghadiri undangan rapat dari Deputi V Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) terkait pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker), Rabu besok (4/3).

"Mengutip surat yang kami terima, bahwa agenda rapat tersebut adalah penyampaian pandangan tertulis terkait dengan materi yang diatur dalam RUU Cipta Kerja. Melalui surat terbuka ini kami sampaikan, bahwa Walhi menolak hadir dalam rapat tersebut," kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Yaya Nur Hidayati, Selasa (3/3).

Nur Hidayati menegaskan, bukan tanpa alasan Walhi menolak hadir dalam rapat tersebut. Pasalnya, RUU tersebut dianggap mengabaikan aspek lingkungan hidup dan HAM.


Presiden Joko Widodo selaku kepala negara tidak memiliki komitmen menjaga lingkungan hidup yang berpotensi menimbulkan bencana alam kelak.

"Penolakan ini didasari pada kajian kami. Walhi berpandangan muatan dalam RUU ini memperlihatkan komitmen buruk Presiden terhadap perlindungan lingkungan hidup. RUU ini akan melanggengkan kondisi krisis, memudahkan investasi, namun menaruh rakyat di bawah ancaman bencana," kata Nur Hidayati.

Lebih lanjut, Walhi menilai latar belakang dan isi RUU ini juga hanya mengedepankan investasi semata dan mengabaikan aspek lainnya terutama hak-hak seorang warga negara dalam menjaga lingkungan hidupnya.

"Semangat pembuatan kebijakan ini ditujukan untuk melindungi investasi dengan mebabat regulasi-regulasi yang dianggap menghambat, dan bukan didasari pada semangat untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan yang bertujuan melindungi hak-hak warga negara," bebernya.

Atas dasar itu, Walhi menegaskan bahwa undangan rapat dari istana untuk melakukan pembahasan materi RUU Cipta Kerja sama sekali tidak mempunyai urgensi apapun.

"Untuk itu, kami mendesak agar Presiden Joko Widodo menarik Surpres dan RUU Cipta Kerja dari DPR RI. Kami juga mendesak kepada DPR RI untuk menolak membahas keseluruhan Omnibus Law RUU Cipta Kerja ini," demikian Nur Hidayati.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya