Berita

Aksi mahasiswa/Net

Politik

RUU Ciptaker Mengancam Pekerja, Alasan Ribuan Mahasiswa Menyerbu Gedung DPR

SELASA, 03 MARET 2020 | 07:20 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Ribuan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Wilayah Jabodetabek-Banten (BSJB) akan turun aksi menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja di depan Gedung DPR RI, Jakarta. Aksi akan digelar pada Rabu besok (4/3).

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) aliansi BEM SI, Ervan Kurniawan mengatakan, sekitar seribu mahasiswa akan turun ke jalan menolak RUU Ciptaker yang tengah digodok anggota DPR bersama pemerintah.

"Sekitar seribu mahasiswa akan turun. Perihal poin yang ditolak, ya engga semuanya. Ada poin-poinnya juga," ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (3/3).


Aksi penolakan RUU Ciptaker dari BEM SI, kata Ervan, bukan tanpa alasan. Mahasiswa menilai banyak kejanggalan yang dilakukan pemerintah dalam draf ini.

Poin yang menjadi dasar aksi penolakan tersebut ialah Omnibus Law RUU Cipta Kerja dinilai cacat secara formil. Di mana, proses pembentukan RUU Ciptaker dianggap melanggar Pasal 5 UU 15/2019 terkait salah satu asas pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu keterbukaan.

"Ketika penyusunan terkesan ditutup-tutupi, bahkan masyarakat luas pun tidak mendapatkan akses untuk memperoleh naskah akademik dari RUU Ciptaker," jelasnya.

Selain itu, mahasiswa pun, kata Ervan, menilai adanya ancaman bagi pekerja Indonesia. Ada kejanggalan terkait ketenagakerjaan yang tidak terdapat unsur dari hukum ketenagakerjaan, yaitu kepastian pekerjaan, jaminan pendapatan, dan kepastian sosial.

“Hal pertama yang harus disorot adalah hilangnya upah minimum," terangnya.

Tak hanya itu, RUU Ciptaker juga sebagai ancaman bagi lingkungan di Indonesia. Karena dalam RUU Ciptaker tersebut dinilai hanya akan menguntungkan korporasi besar jika disahkan dan diterapkan serta berpotensi mampu mengesampingkan hal rakyat atas lingkungan.

"Maka BEM UNJ menyatakan sikap, mendesak pemerintah untuk memperbaiki muatan dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang tidak berpihak terhadap rakyat," tegasnya.

"Mendesak pemerintah untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dalam menentukan setiap kebijakan dan menolak segala kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat," sambungnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya