Berita

Luluk Nur Hamidah/Net

Politik

Luluk Nur Hamidah: Importir Wajib Tanam Bawang Putih Tidak Efektif, Harus Ada Alternatif Lain

SELASA, 03 MARET 2020 | 05:02 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa Luluk Nur Hamidah menyoroti sejumlah hal terutama yang berkenaan dengan kebijakan Impor Bawang Putih beserta kebijakan wajib Tanam bawang  sebanyak 5 persen dari total impor yang diajukan.

Sorotan itu hasil dari Kunjungan Kerja yang dilaksanakan pada 29 Februari 2020 oleh Komisi IV DPR RI di Temanggung.

Salah satu syarat  Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) sebagaimana termaktub dalam Permentan 39/2019 yaitu pelaku usaha yang melakukan impor produk hortikultura strategis seperti bawang putih, wajib melakukan pengembangan komoditas bawang putih.


Kewajiban Pengembangan bawang putih harus menghasilkan paling sedikit 5 persen dari volume impor dan luas tanam berdasar produktivitas rata-rata 6 ton/hektar.

Menurut Luluk, kebijakan ini tidak efektif bahkan tidak berhasil sebab faktanya importir tidak memenuhi jumlah 5 persen dari kewajibannya bahkan sejumlah petani bawang putih  yang tergabung dalam Forum Masyarakat Petani Indonesia (Fortani) menilai kewajiban importir itu hanya merupakan formalitas.

Luluk meminta kebijakan ini harus diubah jika tidak efektif dalam pelaksanaannya. Politisi yang akrab disapa Mbak Luluk ini berpendapat bahwa kebijakan wajib tanam bisa diganti dengan alternatif  menyediakan anggaran kewajiban perusahaan dengan menyerahkan urusan menanam diserahkan ke petani.

“Petani lebih tahu kondisi lahan pertaniannya dibanding importir.  Jadi kewajiban menanam bawang putih oleh importir dapat dikonversi menjadi anggaran yang wajib disetorkan importir yang bisa dikelola Kementan dan disalurkan kepada petani bawang putih dalam bentuk pembagian benih bawang putih,” demikian kata Luluk, Senin malam (2/3).

Temuan dari Kunjungan Kerja Spesifik  Komisi IV DPR RI bahwa Petani Bawang Putih di Temanggung ternyata bisa menghasilkan 25 persen kebutuhan nasional, sehingga sisa kebutuhan nasional yang 75 persen harusnya bisa dicukupi dari daerah lain. Adapun lahan yang cocok untuk menanam bawang putih adalah di daerah dataran tinggi yaitu sekitar 800-1.000 mdpl.

“Indonesia punya banyak daerah bergunung dan dataran tinggi, masak gak ada kawasan yang cocok untuk mengembangkan tanaman Bawang Putih? Kawasan Gunung Bromo, Gunung Lawu dan Merbabu, Sembalun Rinjani serta kawasan Pegunungan lain pasti banyak yang memenuhi syarat untuk menjadi kawasan penghasil bawang putih.Hanya tinggal kemauan politik dari pemerintah saja yang dapat menghentikan ketergantungan impor yang sedemikian tunggi," sergah Luluk.

Luluk juga menemukan kondisi kontradiktif antara data pemerintah dengan kondisi di lapangan. Pemerintah menyatakan bahwa kemampuan produksi nasional Bawang putih hanya sekitar 5 persen sehingga kekurangannya harus impor.

Dengan data seperti ini maka bawang putih menjadi surga bagi para importir, Dan sebaliknya melemahkan posisi petani rakyat.

"Kebijakan impor yang gila-gilaan seperti ini, mulai bawang putih bahkan sampai benihnya dapat membuat varietas bawang putih lokal punah," pungkas Luluk.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya