Berita

Kesepakatan damai Amerika Serikat dan Taliban/Net

Muhammad Najib

Perdamaian Antara Amerika Dan Taliban, Sebuah Kekalahan Amerika

MINGGU, 01 MARET 2020 | 11:52 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

KESEPAKATAN damai untuk mengakhiri perang antara Amerika melawan Taliban yang berlangsung selama 18 tahun, akhirnya ditandatangani di Doha, Qatar, Sabtu (29/2/2020) malam WIB.

Saat penandatangan pihak Amerika diwakili oleh Zalmay Khalizad, sedangkan pihak Taliban diwakili oleh Mullah Abdul Ghani Bandar. Zalmay dikenal sebagai utusan khusus Amerika untuk Afghanistan, sementara Mullah Bandar dikenal sebagai Kepala Urusan Politik Taliban.

Ikut hadir saat penandatanganan Menlu Amerika Mike Pompeo. Walau tidak nampak dipermukaan, Pemerintah Qatar ikut mengatur dan berperan besar sehingga peristiwa bersejarah ini bisa terjadi.


Qatar merupakan satu-satunya negara yang memiliki peran aktif sebagai juru damai, dimulai dengan memfasilitasi kantor perwakilan Taliban di Doha. Lebih dari itu, tentu seluruh biaya operasionalnya, termasuk kunjungan delegasi Taliban ke berbagai negara untuk mendapatkan dukungan.

Delegasi Taliban berkali-kali mengunjungi Indonesia untuk belajar dari pengalaman Indonesia memgelola negara yang multi etnis dan agama. Delegasi Taliban juga berkali-kali mengunjungi Moscow, dan sejumlah negara Eropa untuk mendapatkan dukungan, selain ke Washington DC untuk berunding.

Karena itu, Qatar layak mendapatkan hadiah Nobel, apalagi inisiatifnya terus-menerus mendapatkan gangguan tidak langsung dari tetangga-tetangganya dan sejumlah negara Arab otoritarian.

Perundingan damai yang ditandatangani kemarin malam ini bukan saja mahal, juga sangat melelahkan. Berlangsung selama bertahun-tahun, dan berkali-kali sudah hampir disepakati, mendadak gagal karena sikap keras dan ulet dari Taliban.

Menurut saya, salah satu faktor yang menyebabkan perjanjian damai ini terwujud, karena Amerika sudah tidak punya pilihan lain selain meninggalkan Afghanistan yang terus menguras kas Washington, ditambah korban tentara Amerika yang terus bertambah.

Pada saat bersamaan petahana Donald Trump akan ditentukan nasibnya melalui pemilu yang akan berlangsung tahun ini. Sudah bisa dipastikan, di depan rakyatnya ia akan mengklaim perjanjian damai yang dilakukan pemerintahnya dengan Taliban, sebagai sebuah prestasi yang tidak bisa dilakukan presiden-presiden Amerika sebelumnya.

Trump juga tentu berharap kepulangan ribuan tentara Amerika yang sangat ditunggu keluarga, sahabat, dan para kerabatnya akan menambah simpati rakyat yang berimplikasi pada bilik suara saat pencoblosan Pilpres nanti. Semua ini tentu menjadi bagian dari sandiwara politik domestik Amerika, yang sering dimainkan secara berlebihan di era Donald Trump.

Bagi masyarakat internasional, ditarik pulangnya tentara Amerika dari Afghanistan dipandang sebagai deklarasi kekalahan. Apalagi pemerintahan di Kabul yang selama ini didukungnya bukan hanya tidak dilibatkan dalam perundingan, bahkan berbagai keberatannyapun diabaikan oleh Amerika.

Sampai-sampai Pemerintahan yang kini dipimpin oleh Ashraf Ghani di Kabul, harus mengirim delegasi berjumlah enam orang ke Doha, secara tergopoh-gopoh untuk menemui perwakilan Taliban, sekadar untuk mengetahui isi perjanjian yang akan ditandatangani dua belah pihak.

Setelah mengalahkan dan mengusir Amerika dari tanah airnya, kini saatnya Taliban menyelesaikan dengan bijaksana berbagai masalah politik dalam negri, khususnya terhadap pemerintahan yang ada yang sering disebutnya sebagai pemerintahan boneka buatan Amerika.

Jika Taliban mengalahkan Amerika dengan senjata, kini saatnya Taliban menyelesaikan masalah dalam negrinya dengan diplomasi. Kebesaran jiwa diperlukan untuk memaafkan saudara sendiri. Tidak mudah memang, apalagi selama ini Taliban terbiasa menyelesaikan masalah dengan senjata. Akan tetapi di sinilah letak ujian beratnya.

Kita dan masyarakat international pada umumnya, tentu berharap kepergian Amerika meninggalkan Afghanistan, akan membuat negri ini menjadi damai. Apalagi jika mempertimbangkan penderitaan rakyat sudah dijalaninya selama puluhan tahun, berupa kematian, rasa takut, kelaparan, dan tiadanya rasa aman.

Kini saatnya bangsa Afghanistan hidup normal sebagaimana bangsa lain pada umumnya, membangun negri dan menata ekonomi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakatnya.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya