Berita

Ali Fikri/RMOL

Hukum

MAKI Dan Masyarakat Ragu Harun Masiku Mampu Suap Ke Wahyu Setiawan, KPK: Terlalu Dini Untuk Menyimpulkan

SABTU, 15 FEBRUARI 2020 | 03:31 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) dan sejumlah politisi maupun masyarakat meragukan tersangka Harun Masiku mampu memberikan uang suap untuk Wahyu Setiawan.

Keraguan itu muncul dari berbagai pihak setelah melihat beberapa kejanggalan.

Seperti MAKI yang telah membeberkan bukti percakapan WhatsApp antara Harun Masiku dengan temannya bernama Budi yang berisi bahwa Harun meminta dibelikan tiket pesawat oleh Budi.


Bukti printout percakapan tersebut diungkap di persidangan praperadilan yang diajukan MAKI terhadap KPK ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Dalam praperadilan itu, MAKI meminta KPK untuk menetapkan tersangka lainnya dalam kasus dugaan suap pergantian anggota DPR RI 2019-2024 terpilih.

MAKI pun beranggapan bahwa Harun tidak mampu untuk memberikan uang suap yang dijanjikan sebesar Rp 900 juta untuk Wahyu Setiawan. Sehingga MAKI berkesimpulan ada pihak lainnya yang sebenarnya memberikan modal suap tersebut.

Selain MAKI, politisi Partai Demokrat Jansen Sitindaon pun juga meragukan kemampuan Harun Masiku untuk memberikan uang suap sebesar itu.

Keraguan dari Jansen tersebut muncul lantaran perolehan suara Harun Masiku saat menjadi Caleg PDIP Dapil I Sumatera Selatan hanya memperoleh suara sebanyak 5.878 suara.

"Lihat suaranya yang cuma 5 ribu, aku kok tidak yakin (Harun) Masiku ini Caleg yang punya uang banyak ya," tulis Jansen Sitindaon di akun Twitter pribadinya @jansen_jsp, Kamis malam (13/2).

Jansen pun membandingkan dengan dirinya yang memperoleh suara sebanyak 12 ribu suara.

Sehingga, Jansen mengaku ragu bahwa Harun memiliki uang yang banyak untuk memberikan suap kepada Wahyu Setiawan.

"Karena caleg miskin seperti aku aja masih dapat suara 12 ribu. Jadi aku tak yakin sebenarnya Harun masih punya uang dipakai nyuap apalagi baru habis nyaleg. Tapi biarlah didalami @KPK_RI," kata Jansen.

Menanggapi keraguan dari berbagai pihak, Pelaksana Tugas (Plt) Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri mengaku tak ingin mempersoalkan keraguan banyak pihak terkait kemampuan Harun Masiku memberikan suap.

"Saya kira kalaupun itu ada bukti-bukti (dari MAKI) yang disebutkan tadi bahwa disimpulkan adanya tidak mungkin uang itu berasal dari Harun, saya pikir terlalu dini juga kalau menurut kami," ucap Ali Fikri kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (14/2).

Karena kata Ali, proses penyidikan masih berlangsung dan pihaknya masih terus akan memeriksa pada saksi yang terkait.

Apalagi kata Ali, Harun Masiku pun belum berhasil ditangkap oleh KPK maupun Kepolisian untuk dimintai keterangannya. Sehingga, pihaknya belum mau berkesimpulan bahwa sumber dana suap bukanlah dari Harun Masiku.

"Karena ini proses masih berjalan dan pemberkasan masih berjalan. Tentunya kami masih memeriksa beberapa sejumlah saksi untuk mengkonfirmasi terkait dugaan pemberian dan penerimaan ini," katanya.

Terkait bukti printout percakapan WhatsApp antara Harun Masiku dengan Budi yang diungkap oleh MAKI, Ali tak mengambil pusing persoalan itu. KPK kata Ali hanya menunggu keputusan dari hakim praperadilan yang diajukan MAKI ke KPK.

"Mengenai bukti itu tentunya nanti kita lihat setelah kemudian putusan ini seperti apa di dalam pertimbangan hakim di praperadilan. Kita lihat dulu putusannya seperti apa, masalah benar dan tidak ya belum bisa saya sampaikan sekarang tidak bisa disimpulkan karena ini putusannya belum dibacakan," pungkas Ali.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya