Berita

Toleransi/Net

Nusantara

Terowongan Silaturahmi, Halusinasi Toleransi

JUMAT, 14 FEBRUARI 2020 | 00:54 WIB

DALAM proses renovasi Mesjid Istiqlal Pak Jokowi menyetujui usulan pembangunan terowongan bawah tanah menuju Katedral. Ia mengatakan terowongan tersebut selain memudahkan arus Istiqlal-Katedral, sekaligus menyimbolkan adanya silaturahim antara jemaah.

Wacana ini pun langsung menuai kontroversi. Beberapa tokoh menolak pembangunan terowongan tersebut. Tengku Zulkarnaen, Ferdinand Hutahaean, Zara Zetira, Dandhy Dwi Laksono, dan Yunarto Wijaya. Masih banyak tokoh lain yang mempertanyakan pembangunan terowongan ini.

Perwakilan tokoh-tokoh umat tersebut kebanyakan mempertanyakan dan menyayangkan wacana pembangunan terowongan yang memerlukan dana tidak sedikit itu hanya untuk perkara yang sifatnya simbolik. Sementara hari ini banyak perkara lain yang lebih memerlukan perhatian dan bantuan.


"Kalau menurut saya, yang dibutuhkan sekarang itu bukan silaturahmi dalam bentuk fisik dengan terowongan, tapi yang diperlukan itu silaturahmi dalam bentuk infrastruktur sosial di mana pemerintah ini secara sungguh-sungguh membangun toleransi yang autentik, toleransi yang hakiki, bukan toleransi yang basa-basi," kata Abdul Mu'ti.

Pernyataan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti tersebut kemudian direspons oleh Wakil Ketua Humas Masjid Istiqlal. Menurutnya selain memudahkan juga tidak merusak pemandangan sebagaimana jembatan penyeberangan orang (JPO).

Selain itu menurutnya, terowongan ini bisa menarik wisatawan untuk menjadikannya destinasi wisata dan warisan yang bisa dibanggakan pada anak cucu bahwa simbol agama Islam, Istiqlal bisa disatukan dengan dan Katedral.

Tentu saja keberatan dari para tokoh sangat realistis. Disaat kondisi negeri defisit penguasa mewacanakan membangun terowongan sekedar untuk menandai sebuah toleransi justru menampakan sikap intolerasi.

Layak dipertanyakan, di mana toleransi penguasa pada derita rakyat jelata? Sebelum ini negara telah menaikkan iuran BPJS, dan mewacanakan mencabut berbagai subsidi dengan alasan negara sedang merugi. Tapi untuk membangun yang demikian kenapa dananya ada. Nampaknya derita rakyat tidak lebih penting dari sebuah simbol.

Pertanyaan berikutnya adalah, akankah setelah terowongan simbol toleransi itu dibangun otomatis membuat hubungan antar umat beragama membaik. Sementara penguasa masih bersikap ambigu di tengah umat, khususnya umat Islam.

Bagaimana selama ini setiap terjadi konflik yang korbannya pihak Islam, pelakunya seringkali dikatakan gangguan jiwa atau sekadar kejahatan biasa. Penanganannya tidak seperti jika pelakunya muslim dan korbannya non muslim. Pasti akan dikejar sampai lubang semut. Dan selalu dikaitkan dengan gerakan radikal bahkan teroris.

Ketidak adilan inilah yang justru memancing kesemena-menaan suatu umat ke umat lain. Toleransi pun menjadi basi.

Juga perlu diketahui bahwa penyebab konflik antar umat hari ini sebenarnya bukan karena kurangnya toleransi antar umat beragama tapi antar si kaya dan si miskin. Penguasa dan rakyat jelata.

Sistem kapitalis membuat gap si kaya dan miskin begitu dalam. Sementara penguasa berlepas tangan dalam hampir semua kebutuhan rakyat. Rasa tidak adil inilah yang kerap merangsang kemarahan dan menimbulkan konflik.

Maka penuhilah hajat hidup mereka. Berikan keadilan di semua pelayanan dan hukum. Niscaya rakyat akan mampu bersikap tenang, tidak panik dan tidak mudah tersulut emosi. Kehidupan berdampingan pun tak rentan terprovokasi. Toleransi akan tumbuh secara alami.

Adapun jika benar alasan pembangunannya adalah sebagai destinasi wisata. Maka semakin jelaslah posisi negara hari ini benar-benar sedang berdagang pada rakyatnya. Sehingga uang yang ada tak keluar kecuali untuk yang sesuatu yang bisa kembali mendapatkan uang.

Umi Diwanti


Penulis Revowriter Kalsel, Pengasuh MQ. Khodijah Al-Kubro


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya