Berita

Presiden Jokowi bersama PM Australia Scott Morison/Net

Bisnis

Bhima Yudhistira: Investasi Dari Australia Butuh Waktu Lama Direalisasikan

KAMIS, 13 FEBRUARI 2020 | 23:23 WIB | LAPORAN: DARMANSYAH

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai kerjasama Indonesia-Australia di bidang ekonomi seharusnya sudah direalisasikan sejak lama.

Bhima melihat selama ini ketertarikan Australia masih sebatas komitmen investasi. Sebab masih banyak hambatan sampai komitmen terealisasi.

"Selama ini sudah Rp 500 triliun komitmen investasi mangkrak. Angka ini cukup signifikan kalau direalisasikan. Jadi dengan kondisi tekanan ekonomi yang tinggi seperti saat ini investasi baru dari Australia sepertinya bakal butuh waktu lama direalisasikan," kata Bhima, Kamis (13/2).


Sebelumnya, Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto mengundang pelaku bisnis Australia yang hadir pada acara forum Indonesia-Australia Business Roundtable bersama Presiden RI untuk datang ke Indonesia melakukan bisnis, baik di sektor barang, jasa, maupun investasi.

Mendag Agus memanfaatkan di sela-sela mendampingi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerja ke Canberra, saat menghadiri forum yang digelar di Canberra Room, Hotel Hyatt, Canberra, Australia, Senin, (10/2).

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi yang menyebutkan bahwa Indonesia siap menjadi negara yang ramah investasi.

Menurut Presiden, IA-CEPA bukan hanya menghapuskan tarif bea masuk di antara kedua negara, tetapi harus membuka peluang investasi Australia di berbagai sektor. Presiden memastikan bahwa pelaksanaan IA-CEPA akan menguntungkan rakyat kedua negara.

Mendag menyatakan bahwa para pelaku bisnis dapat memanfaatkan IA-CEPA yang sudah selesai ditandatangani dan diratifikasi oleh kedua negara.

“Indonesia ingin meningkatkan perdagangan, khususnya ekspor, dan mengejar surplus dengan Australia,” kata Mendag.

Melalui IA-CEPA, Indonesia dapat membeli produk-produk baku atau penolong dari Australia untuk dibuat produk jadinya di Indonesia, kemudian diekspor ke dunia.

Sebaliknya, Australia membeli produk-produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industrinya yang berorientasi ekspor.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

TNI Terima Penyerahan 75 Senjata Peninggalan Konflik Sosial Maluku

Minggu, 04 Oktober 2026 | 03:17

MPSI Dorong Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:50

KDMP: Dari Dukungan Negara Menuju Kemandirian Anggota

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:25

Gibran Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Dugaan Keabsahan Ijazah

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:50

Berpengalaman di Bidang Reserse, Irjen Dadang Didapuk jadi Kapolda Metro

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:20

Ketika Karbon Menjadi Komoditas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:43

Miliki Segudang Pengalaman, Tugas Berat Kini Menanti Herimen sebagai Kabaharkam

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:28

Laporan Keuangan Danantara Ditargetkan Rampung Oktober

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:04

Kapolri Baru Harus Usut Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Mauk Sepatan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:33

Polisi Didesak Ungkap Kasus Pemecahan Kaca Mobil Jurnalis di Depok

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:13

Selengkapnya