Berita

Kapolri Idham Azis punya kinerja sangat baik dalam 3 bulan awal masa tugasnya/Net

Presisi

Kinerja Sangat Membanggakan Idham Azis Pada 3 Bulan Pertama Jabat Kapolri

SELASA, 11 FEBRUARI 2020 | 16:55 WIB | LAPORAN: MEGA SIMARMATA

Pada 1 Februari lalu, Kapolri Jenderal Idham Azis sudah 3 bulan menjabat sebagai Tri Brata 1. Memimpin sekitar 470 ribu orang anggota Polri di seluruh Indonesia.

Satu hal yang tak berubah dari sosok Idham adalah sikap tegas dan konsistensinya menegakkan hukum. Leadership atau jiwa kepemimpinannya sangat terpuji.

Idham, tetaplah Idham. Sosok yang sederhana, lurus dalam menjalani kehidupan, dan jujur.


Dalam sebuah kesempatan, dia pernah mengatakan, "Ilmu akan membimbing kita kepada kearifan hidup, tanpa harus mengecilkan arti orang lain."

Itulah sebabnya, Idham secara tegas mengingatkan anak buahnya untuk berlomba mencetak prestasi kerja.

Sehingga, budaya menghadap alias setor muka kepada atasan untuk minta-minta jabatan tidak perlu lagi dilakukan.

Hal ini diungkapkan Idham pekan lalu seusai memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) terhadap 5 anggota Polri berprestasi di bidang olahraga.

“Siapa saja anggota Polri yang berprestasi, saya berharap bapak SDM betul-betul bisa didata dan organisasi Polri harus beri perhatian kepada mereka yang betul-betul berprestasi. Parameter itu harus paling atas. Bukan yang kasak-kusuk, bukan yang menghadap-hadap baru dikasih jabatan,” kata Kapolri di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Kamis (6/2).

Menurut Idham, saat ini jumlah personel Polri di Indonesia sebanyak 470 ribu orang, dan yang kerap menghadap-hadap ke pimpinan untuk meminta jabatan presentasenya hanya sekitar 0,01 persen.

“Pertanyaannya, bagaimana yang tidak menghadap, saya betul-betul berharap kepada rekan-rekan di depan saya, ini adalah prestasi dini yang harus dikedepankan,” sambung Idham.

Penghargaan yang didapat anggota berprestasi ini, diharapkan Kapolri menjadi pemicu bagi seluruh anggota Polri lainya untuk meninggalkan cara rajin menghadap pimpinan guna mendapat jabatan atau pangkat.

Kebijakan Idham yang juga mendapat apresiasi adalah saat ia memberikan kesempatan bersekolah di Sekolah Inspektur Polisi (SIP) bagi 11 anggota Polri yang menyandang disabilitas akibat melaksanakan tugas negara di berbagai operasi.

Adapun 11 peserta tersebut adalah personel Polri telah berjasa menjaga keutuhan NKRI. Yaitu memberikan pengamanan dalam Operasi Tinombala (Sulteng), Operasi Cintai Damai (Polda Aceh), Satgas Amole (Papua), Satgas Tegak Rencong (Aceh), Satgas Aman Nusa (Papua), kontak senjata di Peudada Aceh, dan Laka Lantas dalam rangka pengamanan kunjungan Presiden RI, Satgas Unras, di Papua, serta peragaan HUT Brimob.

Kebijakan Idham ini merupakan wujud penghargaan selaku pimpinan Polri kepada anggota yang telah berjasa melaksanakan tugas Kepolisian dengan mengorbankan jiwa raga.

Ini merupakan pertama kali diberikan kepada para personel Polri yang menjadi korban dalam Satgas operasi.

Ia juga terus mengingatkan kepada seluruh anak buahnya untuk selalu kerja ikhlas, jujur, dan jangan pernah mengabaikan keluarga. Sebab hanya keluarga tempat terbaik untuk kembali dan mau menerima apa adanya.

Kapolri juga sering mengingatkan kepada jajaran kepolisian bahwa "Tidak perlu menjadi orang besar, tapi cukup dengan melaksanakan tugas negara dengan sebaik-baiknya".

Sebab, kata Idham kepada jajaran Kepolisian, sekecil apa pun peranmu, itu akan menjadi catatan sejarah yang mewarnai perjalanan karier yang kelak akan diceritakan dengan penuh kebanggaan kepada anak cucu.

Singkat kata, 3 bulan pertama sudah dilewati Idham dalam jabatannya sebagai Kapolri.

Idham sedang terus membuktikan bahwa masa tugasnya yang sangat amat singkat selama 14 bulan menjadi Kapolri, akan terus dia isi dengan melakukan yang terbaik bagi organisasi Polri.

Masih ada waktu sekitar 11 bulan lagi, untuk bisa dimanfaatkan Idham melakukan hal-hal baik.

Publik menunggu kinerja baik. Terutama prestasi-prestasi kerja Polri di bawah kepemimpinan Idham Azis.

Misalnya, menangkap buronan KPK yang masuk DPO yaitu Harun Masiku. Serta dapat mengungkap siapa dalang utama di balik penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya