Berita

Ilustrasi Kamp ISIS/Net

Politik

Minta Pulang Dan Mengaku Tobat, Simpatisan ISIS Pandai Berbohong Sebab Doktrin Berpura-pura Di Depan Musuh

SENIN, 10 FEBRUARI 2020 | 09:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Terkait kabar kepulangan simpatisan ISIS, negara mesti berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sebab ini menyangkut ideologi.  

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (9/2), mengingatkan sulit mendeteksi jika sudah menyangkut ideologi.

"Pertama, Indonesia belum punya prosedur deteksi ideologi. Yang saya maksud prosedur deteksi ideologi adalah kita tidak bisa melihat secara objektif seseorang ini sudah sembuh secara ideologi atau belum," urainya.


Menurutnya, untuk mendeteksi kesehatan seseorang dan mengantisipasinya, sangat mudah. Ia memberi contoh seseorang bisa dideteksi sembuh dari corona dengan indikator fisik. Misalnya tidak batuk, tidak panas, dan sebagainya.

"Tapi dalam konteks ideologi kita tidak bisa lagi menggunakan itu. Orang tidak bisa hanya menulis misalnya surat pernyataan di atas kertas; saya sudah pro NKRI, saya pro Pancasila, kemudian tanda tangan," ujar Ridlwan .

Ia mengingatkan lagi kasus-kasus terorisme yang terjadi di Indonesia. Juga bagaimana ISIS memandang Indonesia sebagai negara musuh, negara dzalim, dan thogut. Doktrin ini yang terus ada di kepala mereka. Sangat berbahaya jika negara menerima kembali mereka hanya karena mengaku telah insyaf dan menyesal dan menangis minta dipulangkan.

Mereka, menurut Ridlwan, bisa saja berbohong di depan otoritas Indonesia sebagai strategi mereka.
"Jadi itu yang berbahaya. Jadi, mereka menangis misalnya minta dipulangkan, tanda tangan, tetapi tanya hati nuraninya, ideologinya masih belum sembuh, Masih ingin mendirikan negara Islam atau ISIS itu," ujar alumni Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia ini.

Ridlwan menyampaikan, sangat mungkin ISIS berbohong sebab mereka memiliki doktrin yang disebut dengan taqiyah, atau berpura-pura.

"Jadi bagi mereka boleh berbohong di depan musuh," tambahnya.

Ia juga memandang, wanita dewasa yang juga kombatan ISIS sangat sulit untuk menyadarkannya walau kemungkinan masih bisa diperbaiki.

"Masih bisa diperbaiki. Tetapi kalau kemudian posisinya wanita dewasa yang tidak lemah mereka juga sama militannya dengan laki-laki bahkan lebih militan," ujarnya.

Seperti diketahui, pelaku bom beberapa gereja di Indonesia juga adalah perempuan yang terpapar ISIS.  Salah satunya bom bunuh diri di gereja Surabaya pada 2018.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya