Berita

Tri Rismaharini/Net

Hersu Corner

Untung Bu Risma Bukan Gubernur DKI

KAMIS, 06 FEBRUARI 2020 | 18:10 WIB | OLEH: HERSUBENO ARIEF

ANDAI saja hari-hari ini Tri Rismaharini (Risma) yang menjadi Gubernur DKI Jakarta, bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Polisi dipastikan bakal kewalahan. Saking banyaknya netizen yang dilaporkan dan harus ditangkap. Penjara bakal penuh. Beban negara c/q Kemenkumham bakal kian berat menampung dan harus memberi makan para "penghina" Risma.

Gegara dianggap menghina Risma. Menyebut Risma seperti "kodok betina" di media sosial, Dzikria Dzatil asal Bogor, Jawa Barat dicokok dan digelandang polisi ke Surabaya.


Ibu tiga orang anak, termasuk seorang batita yang masih harus disusui itu harus meringkuk di penjara menunggu persidangan.

Ya… Dzikria melalui unggahan di akun facebooknya memajang foto Risma tengah duduk di tepi sebuah sungai (kolam?) dengan komentar "Anjirrrrr…..asli ngakak habis….nemu nih sang legendaris kodok betina".

Unggahan ini ternyata membuat Risma berang. "Terus terang, itu pribadi saya, karena saya kalau kodok, berarti orangtua saya kodok. Saya tidak ingin orangtua saya direndahkan," ujar Risma kepada wartawan.

Anehnya masalah pribadi itu dibawa-bawa menjadi urusan dinas. Dia memberi kuasa Kepala Biro Hukum Pemkot Surabaya mengadukan Dzikria ke polisi.

Langkah Risma inilah yang kemudian banyak disoal. Sejumlah aktivis melaporkan Risma ke lembaga Ombudsman. Dia dinilai telah menyalahgunakan kewenangan (abuse of power).

Penghinaan seperti dituduhkan oleh Risma adalah delik aduan. Bila memang merasa terhina, sudah seharusnya Risma sendirilah yang mengadukan. Bukan menggunakan biro hukum yang notabene dibiayai oleh uang pajak rakyat.

Tidak Siap Menjadi Pejabat Publik


Banyak yang menilai Risma tidak/belum siap menjadi pejabat publik. Baperan dan emosional. Video dan link berita Risma memaki-maki bawahannya dengan kata-kata kasar kembali beredar luas di medsos.

Publik lantas membanding-bandingkan sikap Risma dengan Gubernur DKI Anies Baswedan. Dibandingkan dengan Anies, pem-buly-an terhadap Risma tak ada apa-apanya. Bagi Anies tiada hari, tanpa bully.

Rasanya terlalu banyak olok-olok yang disematkan kepada Anies. Mulai dari plesetan Gubernur menjadi "Gakbener" sampai yang lebih sadis lagi. You Name it!

Foto resmi Anies dengan pakaian dinas pernah dirisak. Wajahnya dibuat seperti Joker. Seorang penjahat psikopat berwajah badut yang tampil dalam serial komik Batman.

Reaksi Anies sangat berbeda dengan Risma. Dia hanya tersenyum dan mengaku tidak akan pernah melaporkan para penghinanya ke polisi.

Setiap warga negara, menurutnya berhak menyampaikan kritik. Seorang pejabat publik harus mau dikritik, harus. Bahkan dicaci maki pun harus biasa-biasa saja. Gak boleh baper.   

"Kalau di wilayah publik jangan minta dipuji saja. Di wilayah publik itu harus siap dicaci maki, diminta turun atau naik. Itu prinsipnya sama. Dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang," tegas Anies.

Wajar bila publik kemudian membanding-bandingkan dengan Anies. Di kalangan pendukung pemerintah, Risma tampaknya didorong-dorong menjadi kompetitor Anies di Jakarta.

Foto-foto dan Risma yang terkesan "merakyat" beredar luas di medsos. Risma terlihat tengah mengatur lalu lintas di tengah derasnya hujan. Aksinya mengecek saluran gorong-gorong ketika kota Surabaya tengah kebanjiran, sampai foto yang kemudian dikomentari Dzikria.

Para penentang Anies mengusung narasi bila Risma menjadi Gubernur DKI Jakarta, dia akan menjadi "Goodbener". Beda dengan Anies.

Risma sendiri tampaknya juga menunjukkan intensi yang sama. Secara tidak langsung dia menyerang Anies dengan menyatakan buruknya kualitas udara di Jakarta.

"Banyak warga Jakarta pindah ke Surabaya karena anaknya asma. Begitu ke Surabaya mereka enggak sakit lagi," kata Risma saat jadi pembicara di Forum Indonesia Millenial Summit 2020 di Gedung Tribrata, Jalan Dharmawangsa, Jakarta (17/1).  

Sayangnya klaim Risma ternyata salah. Media menunjukkan kualitas udara Jakarta lebih baik dibanding Surabaya. Hal itu merujuk pada Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Indeks (AQI) dan polusi udara berdasarkan situs Airvisual.

Dari sisi personal branding kasus Dzikria jelas menjadi nilai minus bagi Risma. Sangat merugikan dan bisa menjadi penghalang ambisinya. Bila benar dia disiapkan dan ingin mendaki posisi lebih tinggi, termasuk sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sikapnya yang temperamental. Tak bisa mengendalikan emosi di depan publik, menjadi angka merah di tengah branding dan marketing politik keberhasilannya membenahi Kota Surabaya.

Yang perlu disadari oleh Risma dan para pendukungnya, bagi sebagian besar warga Jakarta, kenangan buruk bersama Ahok masih sulit dilupakan. Jangan sampai muncul Ahok baru yang kali ini dalam bentuk perempuan bernama Risma.

Penulis adalah pemerhati sosial.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya