Berita

Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik, Agus Jabo Priyono/Net

Politik

Sungguh Naif Ributkan Kapal China Tapi Diam Saat Kekayaan Bangsa Dirampok Asing

SELASA, 07 JANUARI 2020 | 05:47 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Beragam narasi yang belakangan muncul di ruang publik menjadi kegelisahan tersendiri bagi Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik, Agus Jabo Priyono.

Dewasa ini, kata Agus, bangsa Indonesia seakan sudah kehilangan pegangan dan tujuan dalam bernegara.

Ia mencontohkan adanya narasi saling menyalahkan dalam bencana alam yang tengah menimpa Tanah Air.


"Dalam menghadapi bencana, mestinya kita fokuskan energi untuk bergotong royong, bahu-membahu, serta berempati. Tetapi yang terjadi justru ribut, caci-maki, saling menyalahkan, debat istilah yang tidak penting," kata Agus dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (6/1).

Menurutnya, hal itu sudah jelas-jelas jauh dari kepribadian Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar.

Hal lain yang tak kalah penting adalah sikap masyarakat dalam menghadapi pelanggaran pemerintah komunis China di wilayah kedaulatan Indonesia di Laut Natuna Utara.

"Sungguh sangat naif. Kita ribut karena wilayah kita dilanggar oleh negara lain, seperti masuknya kapal-kapal China ke perairan Natuna. Sedangkan di dalam negeri kita sendiri saja banyak yang diambil dan dirampok (oleh asing), tetapi kita diam saja seribu bahasa," tegasnya.

Melihat kecenderungan ini, ia beranggapan bahwa bangsa Indonesia sudah benar-benar kehilangan sosio nasionalisme dan sosio demokrasi, sebagai landasan membangun bangsa merdeka serta prasyarat utama menuju keadilan serta kemakmuran.

Dengan saling mencaci, jelasnya, Indonesia seakan belum menjadi bangsa yang beradab, bangsa yang satu nasib satu tujuan.

"Memang kita masih bermental kuli di negeri sendiri maupun kuli di antara bangsa-bangsa. Jadi pantas saja negara dan bangsa kita diinjak-injak oleh bangsa lain yang lebih kuat dari kita, baik perekonomiannya maupun kekuatan militer dan kekompakan bangsanya," sambungnya.

Atas dasar itu, ia mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam persatuan nasional tanpa mementingkan kelompok ataupun golongan tertentu.

"Ini penting untuk menjaga Indonesia dari kehancuran yang sudah mulai tampak dari prilaku elite korup dan selalu menebarkan rasa kebencian dalam berpolitik kebangsaan yang akhirnya memengaruhi psikologi masyarakat kita," tandasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya