Berita

Lieus Sungkharisma/Repro

Politik

Lieus Sungkharisma: Habib Rizieq Belum Kembali, Ada Yang Bocengli

MINGGU, 22 DESEMBER 2019 | 22:07 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak) Lieus Sungkharisma mengharapkan kesediaan pemerintah membantu mengembalikan Habib Rizieq Shihab ke tanah air.

Permohonan Lieus ini disampaikannya dalam sebuah video berdurasi kurang dari 5 menit yang disebarkan Minggu malam (22/12).

Di dalam video itu, Lieus yang mengenakan T-shirt merah berdiri dengan latar belakang sebuah dinding bertuliskan “Memberangus Kebebasan Berekspresi Adalah Pengkhianatan Terhadap UUD ’45”.


Dia antara lain mengatakan, dirinya senang menyaksikan rekonsiliasi antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dia juga memuji susunan Kabinet Indonesia Maju yang disebutnya OK, sambil menantikan karya-karya nyata.

Namun, kalau Habib Rizieq yang menurutnya terkatung-katung di Arab tidak dibantu kembali ke Indonesia ada yang bocengli, katanya.

Bocengli secara sederhana kerap diartikan sebagai melanggar norma atau mungkin haram. kata “bocengli” merupakan lawan dari kata “cengli” yang berarti berlandaskan tata nilai.

Berikut adalah kutipan lengkap pernyataan Lieus Sungkharisma itu:

Pak Presiden Jokowi yang saya hormati, selamat Bapak sudah menjabat presiden untuk yang kedua kali.

Ada hal yang masih perlu saya sampaikan dan mohonkan kepada Bapak.

Terus lakukan konsolidasi kekuatan buat bangsa demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya terkejut melihat susunan kabinet dimana Pak Prabowo Subianto sebagai orang yang saya dukung menjadi presiden bersaing dengan Bapak, akhirnya masuk menjadi Menteri Pertahanan.

Dan susunan kabinet yang Bapak tampilkan menurut saya OK. Saya akan tunggu karya-karyanya.

Kemudian, Bapak menyusun tim Wantimpres dimana ada tokoh-tokoh yang tadinya saya pikir sudah tergeser, tetapi Bapak rangkul menjadi satu.

Saya kira bagus. Bangsa Indonesia terlalu besar kalau hanya diurus oleh sekelompok-sekelompok orang. Tetapi Bapak menyatukannya.

Dan kita berharap kepemimpinan Bapak yang kedua ini bisa memberikan harapan.

Tetapi satu hal yang masih mengganjal di hati saya.

Ada seorang warganegara Indonesia terkatung-katung di Arab sana. Katanya, itu urusan interen pribadi karena over stay. Tetapi nyatanya beliau ingin sekali kembali ke tanah air.

Saya melihat setelah rekonsiliasi pasangan calon 01 dan 02 sudah selesai, Bapak sudah dilantik, kabinet sudah disusun, dan semua sudah berjalan, kalau kita tidak mengembalikan Habib Rizieq, ada yang bocengli, Pak.

Kenapa saya katakan bocengli, (karena) sudah selesai.

Soal Habib Rizieq, mohon maaf Pak ya, tidak mengakui Bapak sebagai presidennya saya rasa tidak apa-apa Pak. Itu hak daripada setiap warganegara. Yang penting, kan Habib Rizieq nggak nyuruh-nyuruh saya juga untuk tidak mengakui Bapak sebagai presiden.

Saya tetap hormat, Bapak adalah presiden yang sudah dilantik sah.

Tadinya banyak yang bilang, tunggu Bapak dilantik, Habib Rizieq akan kembali. Tetapi nyatanya yang sekarang saya saksikan, penjelasan dari pemerintah, dalam hal ini menteri-menteri Bapak, Dutabesar kita, menimbulkan keprihatinan.

Saya bukan beragama Islam, Pak. Tetapi beragama Budha. Tetapi saya rasa ada yang tidak adil Pak kalau kita membiarkan Habib Rizieq Shihab terkatung-katung di negeri orang.

Saya mohon, saya mohon kepada Bapak Presiden, dengan kewenangan dan kekuasaan yang Bapak miliki sebagai Kepala Negara, saya mohon sekali lagi, balik, balik, balik, kembalikan Habib Rizieq ke Indonesia. Terima kasih.
 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya