Berita

Rapat internal PAN berlangsung ricuh/Net

Politik

Kronologi Drama Zulhas Bawa Kabur Palu Sidang, Versi Loyalis Amien

MINGGU, 22 DESEMBER 2019 | 01:31 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Sebuah drama politik terjadi di kantor sementara DPP Partai Amanat Nasional (PAN) di Jalan Daksa I No. 10, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat malam (20/12). Usai mengetukan palu sambil berkata "Edy Soeparno (jadi) Ketua SC, ya" Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan balik kanan sambil membawa palu sidang.

Jumat malam (20/12), DPP PAN memang sedang menggelar rapat pengurus harian yang sama sekali tidak diketahui pihak luar, kecuali pengurus partai berlambang matahari itu.

Namun demikian, rapat internal PAN itu mulai diketahui publik setelah muncul foto di media sosial yang memperlihatkan sebuah meja dan di atasnya terdapat sebuah bantalan palu, air mineral, tumpukan kacang kulit, serta kotak snack berwarna kuning.


Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Kantor Berita Politik RMOL dari internal PAN, pada malam itu memang benar dilaksanakan rapat pengurus harian, guna menyiapkan pelaksanaan Kongres V PAN yang bakal digelar awal tahun depan.

Namun, rapat tersebut tidak berjalan dengan sebagaimana yang diharapkan puluhan pengurus. Karena, bahasan yang diambil keputusannya pada malam itu tidak meminta kesepakatan dan bukan hasil musyawarah, atau bahkan voting.

Lalu, apa yang sebenarnya dibahas, dan terjadi di dalam rapat tersebut?

Politikus senior PAN yang juga pernah menjadi anggota Komisi III DPR RI, Muslim Ayub, menceritakan kronologi dari kejadian di rapat tersebut.

Malam itu, kata Ayub, sekitar pukul 20.15 WIB sejumlah orang mulai berdiri dan saling dorong satu sama lain. Pasalnya, secara tiba-tiba petahana Zulkifli Hasan langsung meminta Eddy Soeparno menjadi Steering Committee (SC) dan Eko Patrio sebagai Organizing Committee (OC) Kongres V PAN.

Dalam video yang diberikan Muslim kepada Kantor Berita Politik RMOL tampak Zulkifli Hasan alias Zulhas tak mempedulikan keadaan sekitarnya yang sedang ricuh.

Justru ia malah terus komat-kamit, menyebutkan kedua nama tersebut dan langsung mengatakan, "Rapat saya tutup," ujarnya dengan langsung mengetok palu berwarna cokelat yang digenggamnya ke atas bantalan palu.

Seseorang yang mengenakan kemeja lengan panjang warna biru bercorak loreng, tampak berusaha mengambil palu yang dipegang Zulhas. Akan tetapi usahanya pupus, setelah Zulhas melarikan diri dari ruang rapat.

"Setalah si A dan si B menjadi Ketua SC dan OC, dia (Zulhas) langsung lari bawa palu itu," ujar Muslim lewat sambungan telpon, Sabtu (21/12).

Awalnya, diceritakan Muslim, rapat berlangsung tertib dan kondusif. Di mana hal pertama yang dibahas ialah menentukan tempat, tanggal pelaksanaan Kongres V PAN, serta struktur kepanitian acara 5 tahunan tersebut

Zulhas yang saat itu memimpin rapat bersama dengan kehadiran Pendiri sekaligus Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, masih meminta persetujuan tempat pelaksanaan acara kongres. Alhasil, tiga tempat disetujui untuk dihapus.

"Kemudian disepakati lah, nggak boleh di daerah kandidat. Termasuk Lampung itu kan daerah Zul, enggak boleh. Sumatra Utara itu kampungnya Mulfachri, nggak boleh. Terus Yogya nggak boleh kata Pak Zul, karena ada Hanafi," papar Muslim.

Setelah itu, dimulai lah awal ketegangan antarpengurus. Sebab, Hanafi merasa tersindir namanya disebut.

"Hanafi tunjuk tangan, saya enggak ikut nyalon," digambarkan Muslim dalam penjelasannya.

Melihat hal itu, Amien Rais dengan kewibawaannya langsung memotong pembicaraan dan memutuskan, "Oke kalau Yogya dia enggak mau enggak usah, kan udah itu," sebut Muslim.

Karena tidak mendapat keputusan mengenai tempat pelaksanaan acara yang pasti, tiba-tiba Zulhas langsung menyatakan membentuk tim 7 untuk mengurusi teknis pelaksanaan kongres.

Tapi, Zulhas menunjukan arogansinya dengan main tunjuk orang, untuk menentukan 7 nama yang akan mengisi tim tersebut.

"Untuk menentukan tempat, dibentuk tim yang hanya tiga nama disebutkan. Pertama Saleh Daulay, kedua Viva Yoga, ketiga Eddy Soeparno, yang empat orang lagi enggak dibilangnya, langsung tok tok tok terus dan lain-lain," ungkap Muslim.

Barulah setelah itu puncak kericuhan terjadi, saat Zulhas kembali menyebutkan nama Eddy Soeparno untuk menjadi Ketua SC, dan Eko Patrio sebagai Ketua OC.

"Waktu 9-15 menit rapat, siapapun nggak bisa ngomong. Kita nggak bisa interupsi, dia kuasai palunya, dia bawa lari ke rumahnya. Dan saya tidak tahu apa makna palu itu dia bawa. Harusnya kan rapat itu minimal 1 jam untuk menentukan sikap," ucap Muslim dengan suaranya yang sedikit lantang.

Saat Zulhas cabut, Muslim mengatakan kalau suasana masih berlangsung ricuh. Beberapa pihak saling dorong dan rapat berakhir bagai pepesan kosong.

Tapi yang jelas, kejadian ini disaksikan langsung oleh Amien Rais, Hanafi Rais, Mulfachry Harahap, Chandra Wijaya, serta pejabat teras Zulhas seperti Yandri Susanto, Eddy Soeparno dan puluhan kader PAN lainnya. 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya