Peneliti senior Indef, Didik J. Rachbini/RMOL
Presiden Joko Widodo mulai sewot ke jajaran kabinetnya, karena neraca perdagangan Indonesia kembali tekor hingga 1,3 miliar dolar Amerika Serikat pada November 2019 ini.
Hal ini berbanding terbalik dengan perolehan bulan lalu yang surplus atau untung 161 juta dolar Amerika Serikat.
Kegalauan Jokowi, panggilan akrab Presiden Joko Widodo, ini ditanggapi oleh peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J Rachbini.
Didik mengatakan bahwa pernyataan Jokowi soal tekor neraca dagang dalam Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, di Istana kemarin, lantaran jajaran kabinet Indonesia Maju miskin strategi.
"Sekarang kenapa negatif, ini pertama tidak punya strategi. Dan karena tidak punya strategi maka jebol seperti sekarang (neraca dagang)," ujarnya saat dihubungi
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (18/12).
Dampak dari miskinnya strategis ini, diungkapkan Didik, dapat dilihat dari nilai ekspor yang terus jeblok pada Kuartal III 2019.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kita pada bulan November kembali turun sebesar 6,17 persen dari bulan Okteber lalu.
Sehingga, lanjut Didik, Jokowi sudah semestinya menuntut jajaran menteri terkait menyiapkan strategi jitu, guna meningkatkan neraca perdagangan dalam negeri.
"Kalau tidak punya strategi maka hasil dari ekspor, maksimalisasi ekspor untuk memperoleh devisa itu tidak akan maksimal," ujar Didik.
"Sehingga kalau Pak Jokowi sedang ketar-ketir ya harusnya jangan hanya marah atau jengkel begitu, tapi meminta strategi apa yang akan dilakukan oleh menterinya, sehingga kita itu bisa berjalan," dia menambahkan.