Berita

Imam Pambagyo, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan/Net

Politik

Upaya RI Rayu India Sepakati Negosiasi RCEP

SELASA, 17 DESEMBER 2019 | 05:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dari 16 negara, hanya India menjadi satu-satunya negara yang belum menyepakati negosiasi saat KTT RCEP ke-3 di Bangkok, Thailand, awal November lalu.

Hal ini menjadi kendala dalam Penyelesaian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Menurut Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo, dalam Joint Leaders Statement (pernyataan bersama para pemimpin negara) saat itu, menyebutkan bahwa India akan setuju bila beberapa isu dapat diselesaikan.


PM Moodi mengatakan India keluar karena RCEP tidak dapat mengakomodir isu sensitif India. Di India, isu perdagangan bebas memang sensitif menyangkut kesepakatan antar negara bagian.

"India belum menyetujui, fatwanya begitu. India's issues atau keberatan India masih akan coba kita atasi pada kuartal pertama tahun depan," kata Iman Pambagyo dalam Dialog RCEP, Jakarta, Senin (16/12).

Upaya 'mengajak' kembali India untuk menyetujui negosiasi diharapkan selesai pada 2020 mengingat 15 negara akan melakukan penandatangan perjanjian pada November 2020. Sehingga harus ada upaya ekstra bagi beberapa negara untuk menyelesaikan perundingan RCEP.

Dugaan seandainya India tetap tidak menandatangani perjanjian, ditepis oleh Iman. Sebagai Ketua Komite Perundingan Perdagangan (Trade Negotiating Committee/TNC) RCEP, dia harus bersikap netral dan tidak mau berasumsi.

"Saya selalu sampaikan kepada teman-teman, bahwa kita memulai ini berenam belas [negara] dan saya ingin mengakhirinya berenam belas juga," kata Iman.

RCEP diprakarsai oleh ASEAN pada November 2011 saat KTT ASEAN ke-19 di Bali. Indonesia merupakan inisiator RCEP. Semula ada 16 negara mitra, 10 negara ASEAN ditambah Australia, Selandia Baru, China, Jepang, India, dan Korea Selatan.

Perjanjian regional ini mencakup 48% populasi dunia dan jika 16 negara digabungkan maka total GDP mencapai 33% GDP dunia.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya