Berita

Peneliti ICW Tama S.langkung (kedua dari kanan)/RMOL

Politik

ICW: Hukuman Mati Bagi Koruptor Bukanlah Solusi

MINGGU, 15 DESEMBER 2019 | 13:36 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pernyataan kontroversial Presiden Joko Widodo yang menyebut hukuman mati bagi koruptor bisa saja dimasukkan ke revisi UU apabila ada kehendak masyarakat perlu ditelisik lebih jauh.

Demikian yang disampaikan Peneliti Indonesia Corruption Watch, Tama S. Langkung  dalam diskusi 'Koruptor Dihukum Mati, Retorika Jokowi?'.

"Kita harus cari tahu dulu yang dimaksud  Presiden dengan Hukuman mati itu apa? Apakah karena sanksi terlalu ringan maka harus dibuat hukuman maksimal itu? Presiden maunya apa?" katanya di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (15/12).


Menurut peneliti ICW ini, pemberlakuan hukuman mati bukanlah solusi dan tidak memberikan jawaban dalam mengatasi pemberantasan korupsi.

"Sesuatu yang wajar jika ada orang yang marah karena korupsi. Pertanyaannya apakah hukuman mati adalah solusi? Saya rasa tidak," ujarnya.

Tama menjelaskan, sanksi korupsi di Indonesia memang ringan. Hal itu terjadi karena penegakan hukum kita masih inkonsistensi.

"Itu masalahnya. Point menuju maksimal itu bisa dari pengambilan asetnya, pencabutan hak politiknya, hukuman ditambahkan. Bagaimana kemudian sanksi itu bisa maksimal," terangnya.

"Jadi jangan buru-buru ke sana dulu kalau yang ini saja belum dilakukan.(Hukuman mati) Ini bukan hanya kritik masyarakat Indonesia tapi juga masyarakat internasional," pungkasnya.

Sebelumnya Jokowi bicara soal hukuman mati saat mendapatkan pertanyaan dari siswa SMKN 57 Jakarta dalam acara #PrestasiTanpaKorupsi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya