Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Haris Azhar: Jokowi Wacanakan Hukuman Mati Bagi Koruptor Karena Miskin Popularitas

SELASA, 10 DESEMBER 2019 | 18:35 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Sehari sebelum peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Dunia, Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan akan menghukum mati terpidana kasus korupsi.

Ibarat dua sisi mata uang yang berbeda, Jokowi seolah-olah ingin memperlihatkan ketegasannya terkait penuntasan kasus korupsi di Indonesia.

Tapi disisi yang lain, sikap dari pernyataannya itu cenderung meniadakan HAM atau malah sekeaar untuk mencari popularitas?


Pegiat HAM sekaligus Founder Lokataru Foundation Haris Azhar menyatakan hal itu saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (10/12).

Katanya, Jokowi mencari popularitas semata, dibalik pernyataan hukuman mati terpidana korupsi.

"Ini karakter. Kenapa hukuman mati itu dipakai? Karena satu untuk popularitas kedua salah konsep KPK-nya. KPK dibunuh," ucap Haris.

Padahal menurut Haris, memerangi koruptor bukan dengan hukuman mati, yaitu dengan memperkuat KPK sebagai sebuah institusi penegakan hukum anti rasuah.

"Nah dia KPK-nya dibunuh, terus koruptornya mau dihukum mati, dari sisi HAM itu patut dipertanyakan. Dari sisi korupsinya sendiri ya enggak bakal ada orang yang dihukum dari kasus korupsi, karena KPK-nya dibunuh," ujar Haris.

Bahkan belakangan, sikap Jokowi yang memberikan Grasi atau pengampunan hukuman kepada Anas Maamun juga dianggap sebagai pencitraan saja.

"Dia seolah-olah mau bangun ketegasan terhadap koruptor dengan wacana hukuman mati. Padahal ada yang lebih penting perosalan KPK itu, Perppu dan sikapnya terhadap penguatan KPK," Haris menutup.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya