Berita

Warga Papua/Net

Politik

Memanusiakan Manusia, Solusi Jitu Tuntaskan Masalah Papua

SELASA, 10 DESEMBER 2019 | 15:34 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Penyelesaian persoalan di Papua membutuhkan solusi yang konkret dan strategi pendekatan yang tepat. Yang jelas, solusi tersebut harus berfokus pada "memanusiakan manusia" Papua.

Begitu tegas Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F. Silaen kepada wartawan, Selasa (10/12).

Menurutnya, strategi pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan keamanan dan militer justru semakin merusak kepercayaan orang Papua. Bahkan memunculkan kecurigaan, kesalahpahaman, dan ketakutan yang berujung pada kerusuhan dan kekerasan.


Silaen mengurai bahwa akar persoalan Papua berada pada lingkaran diskriminasi, marjinalisasi, kegagalan pembangunan pelanggaran HAM, serta sejarah dan partai politik. Namun lebih mendasar lagi, persoalan dimulai ketika masyarakat Papua tidak merasa dimanusiakan.

"Dari hasil dialog dengan pemangku kepentingan yang ada di Papua, ditemukan kondisi kemiskinan di Papua semakin tinggi terutama di wilayah kabupaten dan kota," papar Silaen seraya menambahkan bahwa bagi masyarakat Papua, ini adalah persoalan hidup dan mati. 

Semakin larut dan kompleksnya persoalan di Papua, sambungnya, tidak dapat dipisahkan dengan adanya peran aktor di balik layar. Karena, meski tidak tampak, menurut Silaen, “setting” perannya tidak dapat dianggap remeh.

Jika diperhatikan, persoalan Papua sendiri bukan berada di Papua itu sendiri, melainkan di luar Papua. Masalah di Papua tidak bersumber dari Papua, melainkan dikirim dari luar Papua.

“Papua hanya dijadikan target masalah, tidak memproduksi masalah. Ini bukan hanya tantangan dan kepentingan masyarakat Papua, namun Indonesia,” tegasnya.

Walaupun sulit, masalah Papua harus diselesaikan. Jangan sampai dengan kepentingan kelompok-kelompok tertentu, persoalan di Papua kian larut dan akhirnya konflik-konflik horizontal terus terjadi dan menimbulkan korban jiwa.

Selama ini, pemerintah pusat menggunakan kaca matanya sendiri dalam upaya penyelesaian persoalan Papua. Namun sebenarnya, yang dibutuhkan untuk mengakhiri kekerasan di Papua adalah solusi yang permanen yang perlu dikaji secara komprehensif melalui kaca mata orang Papua.

"Manusia Papua adalah manusia-manusia merdeka yang tidak bisa didekati dengan pendekatan keamanan yang cenderung represif," tutur Silaen.

Adapun yang dimaksud dengan kacamata Papua adalah mengoptimalkan otonomi khusus (otsus) yang sudah berjalan selama hampir 30 tahun. Pemerintah juga bisa membuat Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Papua untuk menyelesaikan persoalan mendasar mengenai sejarah yang belum juga usai.

Secara garis besar, menurut Silaen, pembangunan di sini tidak hanya persoalan fisik atau infrastruktur semata, melainkan pada pembangunan penghormatan kepada manusia Papua dengan "memanusiakan manusia". 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya