Berita

Airlangga dan Jokowi/Net

Politik

Airlangga Setuju Dengan Jokowi, Masih Banyak Urusan Penting Ketimbang Amandemen

SELASA, 03 DESEMBER 2019 | 12:53 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pernyataan tegas Presiden Joko Widodo yang menolak amandemen UUD Negara RI mendapat dukungan dari partai koalisi, Golkar.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto secara tegas mendukung Jokowi yang menilai amandemen belum perlu dilakukan. Terlebih banyak wacana liar yang turut berkembang menyertai.

Menurutnya, masih banyak masalah yang lebih penting harus diselesaikan pemerintah. Salah satunya urusan ekonomi, yang mana Jokowi mempercayakan Airlangga sebagai pengendali ekonomi bangsa.


“Dalam dekat tidak perlu, kita akan mengkaji secara mendalam," ujarnya usai mendaftar caketum Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Senin (2/12).

Pernyataan Airlangga mendapat dukungan dari kader Golkar yang juga dipercaya Jokowi duduk di Kabinet Indonesia Maju, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menteri Perindustrian itu dengan tegas menyebut bahwa Golkar memang tengah fokus dalam membangun ekonomi bangsa. Mencari solusi untuk menghadapi instabilitas ekonomi dunia.

Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan sejak awal sikap Partai Golkar ingin mengkaji secara mendalam amandemen yang akan dilakukan. Sebab, stabilitas politik dan ekonomi merupakan yang utama.

“Bagi kita, amandemen ini sebaiknya tidak dibahas sekarang karena kita sedang konsentrasi untuk bagaimana pemulihan ekonomi," demikian Ace.

Adapun wacana liar soal amandemen yang muncul dan membuat Presiden Joko Widodo murka adalah penambahan masa jabatan presiden dan pilpres melalui MPR.

Wacana tersebut sempat dilempar Ketua MPR Bambang Soesatyo saat bertemu dengan pengurus PWI beberapa waktu lalu. Bamsoet, sapaan akrabnya, lalu mengurai bahwa wacana itu berdasar keinginan rakyat dan dirinya tidak bisa menghentikan aspirasi dari rakyat.

Namun begitu, bakal calon ketua umum Golkar itu tidak merinci rakyat mana yang dimaksudnya. Sebab banyak pengamat memastikan rakyat akan sepakat untuk tidak mau kembali ke masa sebelum reformasi.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya