Berita

William Wang Liqiang/Net

Dunia

China Klaim Seorang Mata-mata Pembelot Di Australia Adalah Buronan Kriminal

SENIN, 25 NOVEMBER 2019 | 22:36 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang pria yang akhir pekan lalu mengaku sebagai agen rahasia China dan kemudian membelot ke Australia merupakan seorang penipu dan buronan kriminal yang diburu di negeri tirai bambu. Begitu kata pihak kepolisian Shanghai China dalam sebuah pernyataan awal pekan ini, seperti dimuat South China Morning Post.

Pria itu mengaku bahwa dirinya bernama William Wang Liqiang. Dia buka suara kepada media di Australia dan memberikan pernyataan bersumpah kepada Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) tentang upaya China dalam mempengaruhi politik di Hong Kong, Taiwan dan Australia.

Wang dikabarkan telah memberikan identitas dirinya yang merupakan seorang perwira intelijen militer China di Hong Kong kepada ASIO. Dia juga membeberkan soal bagaimana pekerjaan spionasenya didanai dan dilakukan di wilayah tersebut.


Menanggapi hal tersebut, pihak kepolisian Shanghai mengatakan bahwa Wang merupakan seorang pria berusia 26 tahun yang menganggur dari Nanping di provinsi tenggara Fujian. Dia dijatuhi hukuman 18 bulan hukuman penjara pada Oktober 2016 lalu karena penipuan oleh pengadilan kabupaten Guangze di Fujian.

Dalam kasus tersebut, Wang disebut mengarang fakta fiksi dan menyembunyikan kebenaran untuk menipu seorang ayah dua anak dan membawa kabur uang senilai 120 ribu yuan.

Polisi Shanghai juga mengatakan bahwa mereka telah membuka penyelidikan terhadap Wang pada bulan April tahun ini karena dituduh menipu seseorang senilai 4,6 juta yuan melalui proyek impor mobil palsu pada bulan Februari. Investigasi atas kasus tersebut saat ini sedang berlangsung.

Dokumen pengadilan lainnya yang dirilis kepolisian Shanghai tertanggal Desember 2015, menyebutkan bahwa Wang terlibat dalam sengketa pembelian properti pada 2013 di provinsi tenggara Anhui. Pengadilan menolak gugatan di mana Wang dituduh gagal membayar kembali pinjaman.

Pihak kepolisian Shanghai juga mengatakan bahwa Wang pergi ke Hong Kong pada 10 April lalu dengan membawa paspor China palsu dan kartu identitas permanen Hong Kong palsu.

Wang sendiri membantah klaim polisi Shanghai tersebut. Dia mengatakan bahwa hal itu adalah upaya pemerintah China untuk mencoba mendiskreditkannya.

Dia mengatakan bahwa dia telah menyatakan sumpah untuk memberikan keterangan sebenarnya kepada pemerintah Australia tentang kegiatan mata-matanya. Wang juga mengatakan bahwa dia mengetahui konsekuensi dari apa yang dia lakukan.

Kepada sejumlah media Australia, Wang mengaku bahwa dia pernah terlibat dalam infiltrasi politik dan operasi gangguan di Hong Kong, Taiwan dan Australia.

"Saya secara pribadi telah terlibat dan berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan spionase," kata Wang kepada surat kabar The Age.

Dia juga mengatakan dia terlibat dalam penculikan dan penahanan Lee Bo, yakni seorang pemilik Toko Buku Causeway Bay dan satu dari lima penjual buku yang menghilang di Hong Kong pada tahun 2015. Pihak berwenang China membantah tuduhan bahwa mereka telah menculik orang-orang itu. Kasus Lee Bo menyoroti area abu-abu dalam Hukum Dasar Hong Kong

Bukan hanya itu, Wang juga mengatakan dia adalah bagian dari operasi intelijen yang disembunyikan di dalam perusahaan yang terdaftar di Hong Kong yang menyusup ke universitas dan media kota untuk melawan protes anti-pemerintah yang telah berlangsung sejak Juni lalu.

Dia juga mengatakan dia adalah bagian dari operasi infiltrasi untuk ikut campur dalam pemilihan regional tahun lalu di Taiwan dan pemilihan presiden mendatang.

Saat ini, Wang mencari suaka di Australia dan mengatakan bahwa dia takut akan dieksekusi jika dia kembali ke China.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya