Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Di Mata Fahri, Pangkal Dari Masalah BPJS Disebabkan KPK

KAMIS, 07 NOVEMBER 2019 | 08:35 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Muara dari berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat Indonesia adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bekerja secara liar tanpa pengawasan.

Begitu penilaian mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (6/11).

Berbagai masalah yang dimaksud Fahri adalah masalah BPJS Kesehatan yang mengalami defisit, terjadinya dugaan kecurangan pemilu, hingga kemunculan kasus desa fiktif.


"Kenapa BPJS bangkrut? Karena dia nggak tahu jumlah orang penerima bantuan itu, dia nggak tahu jumlah orang miskin. Jumlah orang miskin antara BPS dengan Kementerian Sosial dengan yang lain-lain itu berbeda. Dia bahkan tidak tahu jumlah desa coba bayangkan itu," ucap Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan pada Rabu (6/11) malam.

Akar persoalan itu, kata Fahri,  bersumber pada jumlah penduduk Indonesia yang tidak jelas. Sementara di satu sisi, semua mengandalkan database e-KTP yang bermasalah dan masih ditangani KPK.

"KPK menghambat kasus e-KTP, sehingga orang nggak berani menyentuh e-KTP itu sedemikian rupa. Jadi kita nggak ngerti data penduduk kita berapa," tegasnya.

Menurut Fahri, KPK berkerja secara tidak benar dan  dapat memperburuk keadaan Indonesia di mata dunia. Karena banyak pejabat yang ditangkap, sehingga mengganggu iklim investasi Indonesia.

"Jadi dia (KPK) tidak menggunakan wibawa UU secara tepat, dia sudah menyalahgunakannya. Ketika melihat orang ditangkap itu, itu bukanlah isyarat bahwa korupsi sedang diberantas,” terangnya.

“Tapi dia sedang memperbanyak fiksi-fiksi yang efeknya adalah mengirim sinyal ke dunia Internasional bahwa Indonesia tidak aman bagi investasi," ungkapnya.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya