Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Sama Sekali Dan Salah Satu

RABU, 30 OKTOBER 2019 | 08:50 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SATU di antara sekian banyak kesimpulan atas hasil penelitian Pusat Studi Kelirumologi adalah manusia (termasuk saya) kerap mengaprahkan kekeliruan, akibat sudah terlalu terbiasa alias terlanjur melakukan kekeliruan tanpa atau meski menyadari bahwa sebenarnya yang dilakukan adalah tidak benar alias keliru.

Terkaprahkan
Misalnya istilah konsumerisme sudah terkaprahkan digunakan secara keliru dalam makna perilaku konsumtif berlebihan. Padahal makna yang benar adalah mashab gerakan melindungi konsumen.

Apabila disadarkan tentang kekeliruan tersebut, para pelaku kekeliruan langsung bersikap defensif, bahkan agresif melindungi kekeliruan dari koreksi. Sehingga akhirnya beberapa kamus malah membenarkan makna yang keliru demi tidak dianggap melawan kekeliruan yang sudah terlanjur dilakukan secara berjemaah maka justru dianggap sebagai yang benar.

Apabila disadarkan tentang kekeliruan tersebut, para pelaku kekeliruan langsung bersikap defensif, bahkan agresif melindungi kekeliruan dari koreksi. Sehingga akhirnya beberapa kamus malah membenarkan makna yang keliru demi tidak dianggap melawan kekeliruan yang sudah terlanjur dilakukan secara berjemaah maka justru dianggap sebagai yang benar.

Istilah machiavellisme, radikalisme, populisme, fasisme senasib dengan konsumerisme dalam hal dikaprah-kelirukan, sehingga malah dianggap yang benar alias tidak keliru padahal sebenarnya keliru.

Kata canggih dan nyinyir juga bernasib serupa. Maka meski sebenarnya air putih bermakna air berwarna putih namun kita tetap menggunakan istilah air putih untuk air yang tidak berwarna alias bening atau jernih maka transparan alias tembus-pandang akibat pada kenyataan memang tidak berwarna putih.

Secara naluriah teryakini bahwa lebih baik keliru tetapi banyak temannya, ketimbang benar tapi sendirian. Sendirian benar lebih tidak terasa benar ketimbang rame-rame keliru.

Untaian Kata

Saya terlanjur terbiasa menggunakan untaian kata “sama sekali” dan “salah satu” tanpa sempat meragukan kebenarannya. Namun apabila kita lebih berupaya menyermati semantika “sama sekali” yang dimaknakan sebagai “semuanya; seluruhnya; segenapnya” atau malah kadang-kadang “sedikit pun” sebenarnya rawan timbul kesan janggal atau bahkan nirmakna.

Sebab kata sama bermakna serupa alias tidak berbeda. Sementara kata sekali bermakna satu kali saja alias bukan beberapa kali. Agak sulit tertangkap daya nalar yang wajar-wajar saja bagaimana “sama” apabila diuntai dengan “sekali” lalu mendadak wajib melahirkan makna “semuanya” bahkan “sedikit pun”.

Benar Satu
Juga sulit dimengerti bahwa sebenarnya perpaduan kata “salah” dan “satu” justru tidak menyalahkan pihak mana pun juga. Makna “salah satu” sebenarnya sama dengan “satu di antara dua atau beberapa“ di mana kata “satu” justru lebih cenderung dibenarkan ketimbang disalahkan.

Maka saya pribadi selalu berupaya menghindari penggunaan istilah “salah satu” yang cukup membingungkan daya nalar dangkal saya yang memang mudah bingung sampai sempat menggagas bingungologi.

Berdasar kesadaran bahwa bobot kebenaran lebih dominan ketimbang kesalahan terkandung pada istilah “salah satu” maka istilah yang lebih mendekati makna kebenaran sebenarnya adalah “benar satu”.

Namun ketimbang harus menerima macam-macam cemooh dari para beliau yang sudah terbiasa dengan kekeliruan terkandung pada untaian kata salah dan satu, maka memang jauh lebih aman bagi saya jangan memaksakan untaian kata benar dan satu menjadi “benar satu”. Meski sebenarnya (agak) lebih benar maknanya ketimbang “salah satu”.

Penulis adalah pembelajar makna bahasa serta pendiri Pusat Studi Kelirumologi.

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Bareskrim Bongkar Tempat Jual Beli Ekstasi di Tempat Hiburan Malam

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:59

Ekonom Sambut Baik Kerja Sama RI-Jepang soal Energi Hijau

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:45

NKRI di Persimpangan Jalan

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:13

Legislator Kebon Sirih Bareng Walkot Jakbar Sidak Terminal Kalideres

Rabu, 18 Maret 2026 | 02:50

Menhan: Masyarakat Harus Benar-benar Merasakan Kehadiran TNI

Rabu, 18 Maret 2026 | 02:25

RI Siapkan Tameng Hadapi Investigasi Dagang AS

Rabu, 18 Maret 2026 | 02:08

Kemenhub Tegaskan Penerbangan ke Luar Negeri Tetap Beroperasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 01:50

Teheran Diserang Lagi, Israel Klaim Bunuh Dua Pejabat Tinggi Iran

Rabu, 18 Maret 2026 | 01:30

Sopir Taksi Daring Lapor Polisi Usai Dituduh Curi Akun Mobile Legend

Rabu, 18 Maret 2026 | 01:10

BI Beri Sinyal Tidak Akan Pangkas Suku Bunga Imbas Gejolak Global

Rabu, 18 Maret 2026 | 00:50

Selengkapnya