Berita

Wakil Menteri pada Kabinet Indonesia Maju/Net

Politik

Melonjak 30 Persen, Presiden Masih Boleh Tambah Jumlah Wamen

SABTU, 26 OKTOBER 2019 | 06:28 WIB | OLEH: SAID SALAHUDIN

TIDAK ada aturan yang membatasi jumlah Wakil Menteri. Sekalipun jumlahnya kini telah melonjak sampai dengan 300 persen, Presiden masih boleh menambah jumlah Wakil Menteri, sebanyak yang dia inginkan.

Salah satu yang membedakan jabatan Menteri dan Wakil Menteri (Wamen) adalah dalam soal jumlah pejabat yang diperbolehkan untuk menduduki jabatan tersebut. Merujuk Pasal 15 UU 39/2008 Tentang Kementerian Negara (UU 39/2008), Presiden hanya diperbolehkan membentuk paling banyak 34 kementerian.

Itu artinya, hanya ada 34 Menteri yang boleh diangkat oleh Presiden. Sebab, setiap kementerian hanya boleh dijabat oleh satu orang Menteri. Tetapi beda halnya dengan jabatan Wamen. Dalam satu kementerian, jumlah Wamen boleh saja lebih dari satu orang.


Buktinya, Presiden merasa tidak ada masalah ketika ia membuat rekor dengan mengangkat dua orang Wamen sekaligus di Kementerian BUMN. Bahkan jika di setiap kementerian diangkat tiga orang Wamen sehingga jumlahnya menjadi lebih dari 100 orang pun hal itu bisa saja dilakukan oleh Presiden.

Saya tidak sedang bergurau. Ini serius. Presiden sangat-sangat berwenang untuk mengangkat lebih dari 100 orang Wamen sekalipun. Persoalannya tinggal Presiden mau atau tidak mau untuk menambah jumlah Wamen dilingkungan kabinetnya.

Jadi jangan berpikir bahwa pengangkatan 12 Wamen kemarin (25/10/2019) itu sudah final. Kalau Presiden mau, dia bisa saja mengangkat Wamen-Wamen baru besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan saja. Pokoknya terserah pada Presiden.

Semua keabsurdan itu bisa terjadi akibat adanya kelemahan dalam UU 39/2008. Undang-undang hanya menentukan mengenai kewenangan Presiden untuk mengangkat Wakil Menteri, tetapi tidak memberikan batasan yang tegas mengenai jumlah Wamen yang boleh diangkat oleh Presiden.

Syarat pengangkatan Wamen yang ditentukan oleh Pasal 10 UU 39/2008 pun terbilang sederhana: Presiden dapat mengangkat Wakil Menteri dalam hal terdapat beban kerja yang membutuhkan penanganan secara khusus.

Soal bagaimana cara mengukur “beban kerja yang membutuhkan penanganan secara khusus”, undang-undang sama sekali tidak menjelaskan parameternya. Oleh karena UU 39/2008 tidak menjelaskan maksud dari “beban kerja yang membutuhkan penanganan secara khusus”, maka menurut Mahkamah Konstitusi (MK) melalui Putusan Nomor 79/PUU-IX/2011, tanggal 5 Juni 2012, hal itu diserahkan kepada Presiden untuk menilainya sendiri.

Putusan MK itulah yang mungkin saja dimanfaatkan Presiden untuk menentukan jumlah Wamen menurut penilaian subjektifnya. Sehingga, berdasarkan celah itu Presiden dapat mengangkat Wamen dalam jumlah berapapun yang dia kehendaki karena ia diberikan hak untuk menaksir sendiri beban kerja kementerian yang membutuhkan penanganan khusus.

Jadi, jujur saja saya tidak terlalu terkejut dengan adanya penambahan jumlah Wamen sampai dengan empat kali lipat dari jumlah sebelumnya. Karena soal ini sebetulnya sudah pernah saya kemukakan dalam sebuah diskusi di Gedung DPR sekira tiga bulan yang lalu.

Bahkan saya menduga ke depan Presiden mungkin saja akan mengangkat Wamen-Wamen yang baru. Sebab, masih terdapat sejumlah kementerian yang secara logis justru memiliki beban kerja yang lebih berat ketimbang Kementerian Agama atau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, misalnya.

Lepas dari persoalan setuju atau tidak setuju, saya berpandangan Presiden berwenang untuk itu. Kalau ada pihak yang tidak setuju Presiden menambah jumlah Wamen dengan alasan pemborosan keuangan negara, MK sudah memberikan jawaban: biaya yang dikeluarkan untuk suatu jabatan tidak boleh hanya dinilai pada kerugian finansial semata, karena ada juga keuntungan dan manfaatnya untuk bangsa dan negara.

Said Salahudin

Pemerhati politik dan kenegaraan, Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma).

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya