Berita

Menteri Agama, Jenderal (Purn) Fachrul Razi/Net

Politik

PB PMII: Jokowi Keliru Pilih Menag Dari Militer Kalau Tugasnya Urus Radikalisme

KAMIS, 24 OKTOBER 2019 | 17:20 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Jenderal (Purn) Fachrul Razi sebagai Menteri Agama RI. Publik pun heboh atas pemilihan jabatan menteri agama berasal dari kalangan militer, yang paling keras bersuara adalah kalangan Nahdliyin.

Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII)  turut angkat bicara terkait dipilihnya Fachrul Razi sebagai Menag.

Sekretaris bidang kajian dan riset PB PMII, Sufyan Hadi mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan yang telah diambil oleh Presiden Jokowi. Menurutnya, orang yang layak menduduki posisi menteri agama haruslah berasal dari kalangan santri, karena memiliki wawasan keilmuan agama yang kompeten dalam menyelesaikan berbagai persoalan di bidang keagamaan.


"Jangan karena atas alasan ingin berperang melawan radikalisme, Menag diambil dari unsur militer. Persoalan agama tak hanya sebatas pada wilayah radikalisme maupun terorisme saja. Ada kewajiban mengurus pendidikan agama di sekolah-sekolah maupun pondok pesantren, persoalan ibadah haji, dan lain sebagainya. Kalau menterinya enggak punya kapasitas ilmu keagamaan, itu bahaya," jelas Sufyan.

Sufyan menambahkan, penunjukan mantan Wakil Panglima TNI era Presiden Gus Dur itu merupakan sebuah kekeliruan. Menurut kajian PB PMII, radikalisme justru marak menyasar di sekolah maupun kampus-kampus umum, bukan pesantren.

"Agak keliru jika menaruh Menag berlatar belakang militer dengan prioritas radikalisme dan intoleransi. Karena radikalisme dan intoleransi tumbuh pesat di sekolah umum bukan madrasah atau pesantren yang notabene wilayah kerja Kemenag," tandasnya.

PB PMII mengaku siap membuka forum klarifikasi untuk Menag baru. Forum itu untuk mendiskusikan hal-hal mendasar tentang keagamaan dan keumatan.

"Kami khawatir jika masalah keumatan dan keagamaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Ini berpotensi membawa mudharat bukan manfaat kepada umat," pungkasnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya