Berita

Paus beri berkat damai bagi bangsa Indonesia/Istimewa

Politik

Jelang Pelantikan Presiden, Paus Fransiskus Beri Berkat Damai Untuk Bangsa Indonesia

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 | 15:43 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Paus Fransiskus secara khusus memberikan berkatnya untuk Bangsa Indonesia dan berharap Indonesia hidup dalam damai. Berkat itu menjadi nyata saat Paus Fransiskus berkenan menandatangani kertas yang bertuliskan Pace Per Il Popolo Indonesiano – La Mia Benedizione, Papa Francesco (Damai Untuk Bangsa Indonesia – Berkatku, Papa Fransiskus) di Vatikan, Rabu (16/10).

Tulisan berisi berkat itu dimintakan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro dan Gora Kunjana, wartawan Investor Daily kepada Paus Fransiskus dalam tradisi audiensi umum yang jatuh setiap hari Rabu.

Bagi Putut Prabantoro, alumnus Lemhannas RI – PPSA XXI, itu merupakan perjumpaan kedua dengan Paus Fransiskus. Setelah pertemuan yang pertama pada 28 Oktober 2015.


Putut memberikan batik dari Indonesia kepada Paus, yang merupakan titipan dari Ketua Forkoma PMKRI Hermawi Taslim. Dalam audiensi itu, Putut Prabantoro dan Gora Kunjana sama-sama mengenakan busana adat Yogyakarta.

Menurut Putut Prabantoro, gagasan untuk meminta berkat bagi Bangsa Indonesia dari Paus Fransiskus sudah ada sejak keberangkatan dari Indonesia. Meskipun kesempatan untuk bertemu Paus dalam audiesi umum yang dihadiri ratusan ribu orang sangatlah kecil kemungkinannya, gagasan untuk memohon berkat itu tetap dilakukan dengan menuliskannya di kertas tebal.

Malam sebelumnya, bersama Suster Matilda INSC, Suster Maria Matrona Ola INSC, dan Pastor Suherman Pr dari Keuskupan Tanjung Karang -ketiganya sedang studi di Roma, Italia - draft berkat dari Paus itu ditulis. Akhirnya, Suster Matrona Ola diminta untuk menuliskan draft berkat yang sudah disepakati.

“Dalam audiensi umum yang dihadiri ratusan ribu orang, setiap peziarah selalu berharap dapat menyentuh atau bersalaman dengan Paus. Namun tidak ada seorangpun yang bisa memperkirakan apakah harapan untuk menyentuh atau bersalaman dengan Paus dapat terwujud," ujar Putut yang juga Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia).

"Biasanya yang akan dihampirii oleh Paus adalah anak-anak kecil ketika berkeliling di tengah-tengah peziarah dengan mobil kehormatannya. Bahkan ketidakpastian ini juga dialami oleh para peziarah yang mendapat tempat khusus di sekitar podium,” tambah Putut melalui keterangan tertulis, Kamis (17/10).

Karena itu, sejak subuh Putut Prabantoro dan Gora Kunjana hadir di luar lapangan St. Petrus karena akses berkontrol belum dibuka. Pada pukul 08.00, akses berkontrol dibuka dan karena berada pada urutan pertama, keduanya mempunyai kesempatan memilih tempat yang dianggap paling strategis untuk mendapat perhatian Paus.

Tempat yang dipilih keduanya adalah posisi kursi paling depan yang berhadapan langsung dengan tribun Paus. Meski demikian keduanya menyadari bahwa dapat bersalaman dengan Paus adalah persoalan  mukjizat mengingat tak seorangpun bisa “menyetir” Paus kepada siapa harus disalami. Pengecualian terjadi bagi mereka yang memang sudah direncanakan untuk disalami dan berada di tempat yang khusus.  

Selain itu, meskipun mendapat kesempatan memilih tempat yang dianggap paling strategis, keduanya tetap harus dituntut bersabar dan menahan lapar, menunggu kehadiran Paus beberapa jam ke depan. Mereka mengaku tidak berbekal apa-apa namun disadari itu merupakan risiko yang harus diambil untuk bersama-sama dengan ratusan ribu peziarah lain yang mengharap terjadinya mukjizat dapat bersalaman dengan Paus.

“Mengenakan busana adat Jawa merupakan salah satu bentuk upaya mengambil perhatian Paus. Tadinya kami ingin batal untuk mengenakan karena malam hari sebelumnya hujan deras mengguyur kota Roma. Namun karena sudah kepalang tanggung, kami akhirnya tetap mengenakan busana adat Jawa. Jika nanti ada perubahan cuaca dan hujan datang, ya risiko harus ditanggung," ujar Gora Kunjana.

Dia menambahkan,"Saya kira mengenakan busana tradisional dalam audiensi bukan ide yang salah. Namun demikian, tetap saja itu tidak menjamin bahwa Paus akan menengok ke kita. Semua serba tidak pasti, para peziarah tetap bahagia sekalipun tidak bersalaman dengan Paus. Tapi yang kami alami adalah suatu mukjizat, Paus menengok kepada kami, Paus menghampiri, dan kami bersalaman agak lama dan bahkan menandatangani kertas yang dibawa oleh mas Putut Prabantoro.”

Menurut penuturan Gora, seperti biasanya Paus keluar dengan mengenakan mobil kebesarannya dan jalur pertama adalah lewat di depan para peziarah yang duduk paling depan termasuk Putut dan dirinya. Kehadiran Paus di publik langsung disambut dengan tepuk tangan dan teriakan “Papa Francesco” dari para peziarah.

Tanpa mau meninggalkan momentum itu, Putut dan Gora juga meneriakkan kata “Papa Francesco” yang melewati para peziarah yang duduk di bangku depan namun berbatas pagar kayu. Tiba-tiba Paus menengok kepada keduanya agak lama, seakan memberi tanda.

“Paus mengenal kalian sepertinya. Itu tangannya menunjukkan sesuatu dan matanya terus kepada kalian,” ujar Rosa, peziarah dari Italia, yang duduk di sebelah Putut Prabantoro.

Paus terus berkeliling dan teriakan “Papa Francesco” dari ratusan ribu peziarah tidak surut. Mereka yang duduk di baris paling depan tidak tahu apa yang sedang terjadi di bagian belakang.

“Dan ketika kendaraan kebesaran berhenti di depan tribun setelah berkeliling, tiba-tiba Paus turun dan menghampiri kami. Tepat seperti yang dikatakan oleh ibu Rosa dari Italia. Sungguh kami merasa memang menjadi perhatian Paus," ungkap Gora.

"Tanpa menyia-nyiakan waktu, mas Putut Prabantoro mengeluarkan kertas yang harus ditandatangani Paus dan saya memberikan hadiah batik. Ketika Paus disodori kertas, beliau membaca sesaat dan kemudian menandatanganinya dengan spidol hijau yang telah disiapkan kami. Dan... Paus memberkati Bangsa Indonesia dan berharap Bangsa Indonesia damai,” cerita Gora Kunjana, yang mengaku bersama Putut Prabantoro berteriak bahagia setelah Paus menandatangani Berkat Damai untuk Bangsa Indonesia.

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

OJK Minta Masyarakat Waspada Scam Berkedok Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:12

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kebijakan OPEC+ dan Arab Saudi

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:03

PSI Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah Jika Hanya Andalkan Jokowi

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:57

Prabowo Bersiap Gelar Pertemuan Bilateral dengan Modi di Istana Pagi Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:54

IHSG Menguat, Rupiah Bergerak ke Rp17.985 per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:48

BBNI Tuntaskan Buyback 2026, Saham Dialihkan Penuh untuk Program Pegawai (ESOP)

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:45

PPP Menangkan Lima Gugatan Sengketa Internal, Legalitas Kepengurusan Semakin Kuat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38

GREAT Insitute: Perubahan Pradigma Pembangunan Indonesia Diakui Dunia

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Harga Emas Antam Anjlok Rp15 Ribu, Termurah Rp1,37 Juta

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Keputusan RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei Sangat Tepat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:22

Selengkapnya