Berita

Ilustasi/Net

Publika

Ekonomi Indonesia Jelang Resesi

JUMAT, 11 OKTOBER 2019 | 13:11 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

Pertumbuhan Ekonomi

Proyeksi Bank Dunia untuk Indonesia, pada tahun 2019 akan bertumbuh 5,0 persen. Turun dari proyeksi IMF sebelumnya, yang menyebut Indonesia tahun 2019 dapat mencapai 5,2 persen. Berdasarkan proyeksi IMF juga, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 berada di peringkat 33 di dunia!

Wajar bila dikatakan oleh Bappenas, pertumbuhan Indonesia yang di kisaran 5 persen tidak cukup untuk menghilangkan kemiskinan. Untuk mencapai pendapatan perkapita ukuran negara maju, dengan 5 persen bisa puluhan tahun upayanya. Malah, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir tahun 2019 dapat turun hingga di bawah 5 persen (kisaran 4,6 sampai 4,9 persen) seiring menjelangnya resesi dunia.
 

 
Ketimpangan Pendapatan

TNP2K dalam laporannya menyebut ketimpangan antara si kaya dan si miskin di Indonesia semakin melebar. Lembaga ini mengungkapkan, 1 persen orang Indonesia menguasai 50 persen aset nasional. Sementara, 10 persen keluarga terkaya menguasi 70 persen aset nasional.

Bandingkan dengan ketimpangan di Amerika Serikat, negara yang sering disebut paling liberal. Ternyata di negara Paman Sam tersebut, pada tahun 2014 sebanyak 1 persen orang terkaya menguasai 40 persen aset nasionalnya.

Artinya: Pertama, Jokowinomics periode pertama meningkatkan ketimpangan pendapatan, yang kaya semakin kaya dan semakin berkuasa (berhubungan dengan menguatnya oligarki di era ini. Kedua, Indonesia lebih timpang daripada Amerika Serikat, ekonomi Indonesia sudah terlalu kanan. Ugal-ugalan.
 
Beban utang Luar Negeri

Yang perlu diwaspadai adalah utang luar negeri (ULN). Sampai September 2019, ULN didominasi oleh mata uang dolar AS (USD) yaitu sebesar 67 persen dari total ULN.

ULN pemerintah dan bank sentral kurang dari 50 persen dalam USD. Sementara ULN swasta, 89,9 persen, hampir seluruhnya berupa USD.

Pertumbuhan ULN swasta sepanjang 2014-2019, selama 5 tahun "hanya" 34,2 miliar dolas AS, sementara pertumbuhan ULN pemerintah pada periode yang sama lebih dari dua kali lipat: 70 miliar dolar AS!

Defisit Transaksi Berjalan

Defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar - 8,4 miliar dolar AS di kuartal II 2019, masih yang terburuk di kawasan ASEAN. Yang tidak banyak berubah sejak masa Jokowi. Semakin besar defisit, semakin rentan mata uang Rp melemah terhadap aksi spekulasi. Meskipun memang benar efeknya tidak akan seburuk 1997.

Defisit transaksi berjalan yang besar menunjukkan bahwa selain kita ini hanya jago kandang, produktivitas juga rendah. Terlalu bergantung kepada impor dan aliran uang panas asing ke pasar uang, sementara ekspor melambat karena terjadi percepatan deindutrialisasi dan tidak kunjung datangnya investasi langsung yang berorientasi ekspor.

Kesimpulan

Pertama, salah pengelolaan ekonomi di era Jokowi mengakibatkan defisit transaksi berjalan yang besar, sehingga Indonesia menjadi negara di kawasan yang paling rentan terhadap resesi dunia.

Seluruh tim ekonomi harus bertanggung jawab atas kegagalan ini, dengan cara tidak kembali masuk ke kabinet Jokowi jilid II.
 
Kedua, pertumbuhan utang luar negeri pemerintah yang jauh lebih cepat (dua kali lipat) dari utang swasta harus disalahkan kepada Menteri Keuangan, apalagi bunga kupon yang diberikan pemerintah adalah yang tertinggi di kawasan sehingga merugikan perekonomian negara ke depannya.

Ketiga, daya beli rakyat Indonesia yang dilemahkan oleh tim ekonomi Jokowi dengan pencabutan subsidi energi, kenaikan iuran BPJS, kenaikan cukai rokok, dan pajak lainnya akan semakin memperlambat perekonomian di akhir tahun.

Selain itu, dampak dari kebijakan pelemahan daya beli ini adalah ketimpangan antara kaya dan miskin yang sudah sangat buruk (lebih buruk dari AS) akan semakin memburuk, sehingga menjadi basis untuk terjadinya krisis sosial yang luas (bila bertemu dengan krisis politik dan resesi).

Penulis adalah Koordinator Pergerakan Kedaulatan Rakyat.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya