Berita

Jokowi diingatkan untuk pilih menteri yang tepat di Kabinet Jilid 2/Net

Politik

Jokowi Jangan Pilih Menteri Kabinet Jilid 2 Yang Punya Beban Masa Lalu

SENIN, 07 OKTOBER 2019 | 08:54 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Presiden Joko Widodo diharapkan bisa lebih cermat dalam memilih menteri untuk duduk di kabinet periode kedua. Jangan lagi mereka yang punya beban masa lalu dengan rakyat Indonesia. Lebih baik diisi oleh banyak wajah baru.

Director for Presidential Studies-DECODE UGM, Nyarwi Ahmad mengatakan, kinerja seorang menteri bukan hanya dapat mewujudkan capaian target Presiden Jokowi melalui kerja birokrasi, melainkan juga harus sejalan dengan harapan masyarakat.

"Apakah itu (menteri) sejalan dengan harapan masyarakat atau tidak, indikatornya kan harus gitu. Dia harus menghasilkan kebijakan yang bisa dirasakan atau bisa dilihat, dimanfaatkan oleh masyarakat," ucap Nyarwi Ahmad kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (7/10).


"Kalau itu misalnya tidak terasa dengan baik, artinya tidak sejalan dengan apa yang diinginkan pak Jokowi, bahkan bermasalah. Karena merusak citra dan kredibilitas. Maka saya pikir itu tidak layak untuk dilanjutkan," imbuhnya.

Selain itu, Jokowi juga diharapkan tidak memilih menteri dengan sosok yang dianggap bermasalah secara subjektif.

"Bermasalah di mata Jokowi, bermasalah di mata masyarakat, atau apapun. Yang penting jangan menambah PR bagi pak Jokowi. Tapi justru bisa membantu mengurangi problem yang dihadapi pak Jokowi," jelasnya.

Lanjut Nyarwi, kabinet periode kedua Jokowi juga harus diduduki oleh wajah-wajah baru yang bisa menjadikan demokrasi di Indonesia lebih terjaga. Tidak dianggap sebagai wajah yang otoriter seperti beberapa menteri periode pertama.

"Nah ini kan kita bicara masa depan, jangan terjebak kepada sirkulasi persoalan masa lalu. Artinya tidak punya beban di masa lalu. Bukan hanya pak Jokowi saja yang tidak punya beban, tapi menteri-menteri yang ditunjuk itu jangan yang punya beban masa lalu," pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya