Berita

Gedung KPK/Net

Politik

Penerbitan Perppu KPK Bisa Sia-Sia

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 22:07 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Presiden Joko Widodo memang berhak mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti UU (perppu) untuk membatalkan revisi UU KPK yang telah disahkan DPR. Perppu bisa dikeluarkan jika presiden merasa ada keadaan darurat yang memaksa.

Namun demikian, analis politik Sulthan Muhammad Yus mewanti-wanti Jokowi untuk tidak sembarangan menerbitkan perppu. Dia juga mengingatkan bahwa perppu tersebut bisa sia-sia jika DPR sepakat untuk membatalkannya.

Sulthan menguraikan bahwa perppu akan berlaku seketika pasca dikeluarkan. Namun sifat aturan ini hanya sementara. Sebab, dalam waktu satu kali masa sidang, DPR akan menggunakan kewenangan untuk menilai objektivitas perppu.


Sementara di satu sisi, anggota DPR sudah kompak dan sepakat untuk merevisi UU KPK. Artinya, penerbitan perppu bisa sia-sia jika kemudian DPR melakukan penolakan.

“Artinya, langkah presiden nanti bisa dilihat sebagai atraksi politik semata. Ujungnya, perppu bisa dibatalkan karena tidak mendapat persetujuan DPR. Ini sama saja dengan mengadu domba rakyat dengan wakilnya," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (3/10).

Lebih lanjut, direktur Politik Hukum Wain Advisory Indonesia itu melihat bahwa revisi UU KPK sudah disahkan oleh DPR dan juga telah mendapat persetujuan dari Jokowi melalui menterinya. Untuk itu, Jokowi tidak perlu mengeluarkan perppu dan cukup memberi imbauan kepada masyarakat yang menolak untuk mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Apalagi tidak ada persoalan hukum mendesak dengan revisi UU KPK, tidak ada juga kekosongan hukumnya, KPK juga masih berjalan sebagaimana mestinya. Jadi sama sekali tidak memenuhi parameter perppu tersebut," jelas dia.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya