Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Waspada PKI Baru

KAMIS, 03 OKTOBER 2019 | 08:17 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

BEREDAR undangan di whatsapp group yang saya ikuti. Pengirimnya eks anggota PKI 1965. Undangan itu ditujukan kepada para wartawan agar meliput laporan anggota PKI 1965 tentang penemuan kuburan massal ke Komnas HAM.

Konon jumlah kuburannya lebih dari 300 lokasi. Kuburan massal itu mereka percayai sebagai kuburan massal anggota PKI yang "dibunuh" militer pada tahun 1965.

Sepertinya PKI mencoba membuat framing bahwa PKI itu "baik". PKI hanya "korban" kebiadaban militer. PKI tidak bersalah. Militerlah yang kejam.


Sebagai wartawan senior, saya ingin berpesan kepada para wartawan junior, terutama wartawan online. Yang umurnya masih remaja. Yang mendengar kata "PKI" hanya dari cerita.

Buka kembali catatan sejarah di buku-buku teks atau datang ke Museum Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, Taman Mini. Lihat bagaimana sepak terjang PKI pada masa itu.

PKI terkenal sejak dulu sebagai partai yang suka memutarbalikkan fakta. Hasilnya, partai-parai Islam dibekukan. Tokoh-tokoh Islam masuk penjara. Banyak jenderal dibunuh. Pondok pesantren hancur. Kiai-kiai hilang misterius.

PKI juga partai pengkhianat. PKI memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun pada 1948. Negara yang memisahkan diri dari NKRI. Hanya tiga tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Bahkan masih dalam konflik dengan Belanda yang ingin menjajah kembali.

Proklamasi itulah yang terkenal dengan Madiun Affair. Ribuan orang jadi korban: tokoh pemerintahan, militer dan agamawan dibunuh PKI secara sadis.

Fakta-fakta kekejaman PKI masih bisa ditemukan dengan mudah di berbagai wilayah mulai Boyolali, Kartasura, Surakarta, Ngawi, Madiun, Kediri, Jombang hingga Ponorogo dan Pacitan.

Para wartawan muda, harap hati-hati. Jangan sampai Anda masuk perangkap PKI. Dengan isu-isu yang basi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya