Berita

Aksi Mahasiswa di DPR

Publika

Selamat Datang Angkatan 2019

MINGGU, 29 SEPTEMBER 2019 | 20:31 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

GENERASI pergerakan pemuda mahasiswa yang sedang membentuk nasib sejarah politik Indonesia Modern. Mereka layak disandingkan dengan Angkatan (19)98 dan Angkatan (19)66 dalam hal: kuantitas, adanya martir perjuangan, dan keterlibatan luas kalangan pelajar.

Secara kuantitas tidak ada yang menyangsikan besarnya jumlah massa mahasiswa yang memadati sekitar Gedung DPR Senayan malam itu (23 September 2019).  Merupakan suatu rekor tersendiri, bisa jadi lebih besar dari massa mahasiswa era reformasi 1998, namun yang pasti sebagai Gerakan Mahasiswa adalah yang terbesar di Abad 21.

Termasuk bila dibandingkan adalah sebaran/luasan Gerakan, Angkatan 2019 masih yang terluas. Seperti juga Angkatan 1966 dan 1998, angkatan 2019 juga memiliki martir. Dua orang mahasiswa, namanya masing-masing adalah Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi.


Randi adalah mahasiswa jurusan Vokasi Ilmu Perikanan, terbunuh oleh peluru tajam di dadanya saat terlibat aksi demonstrasi di Sulawesi Tengggara. Ayahnya seorang nelayan di Pulau Mina, menyekolahkan Randi ke sekolah perikanan untuk dapat melanjutkan dan mengembangkan bisnis keluarga. Sedangkan korban kedua adalah Muhammad Yusuf Kardawi,mahasiswa jurusan teknik di Universitas Halu Oleo, mengalami bocor kepala hingga meninggal di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Hal yang juga menyamakan Angkatan 2019 dengan gerakan-gerakan besar sebelumnya, di tahun 1998, 1966, ataupun bahkan pada era 1945, adalah keterlibatan pelajar dalam perjuangan. Keterlibatan pelajar STM dan SMK (yang namanya dijadikan merk mobil nasional, Esemka), sehari pasca demonstrasi mahasiswa di DPR dibubarkan, dalam demonstrasi di Jakarta dan meluas ke daerah-daerah lainnya telah menjadi fenomena tersendiri.

Kabarnya juga, anak-anak pelajar STM ini akhirnya bersatu di lapangan, menyingkirkan permusuhan di antara mereka. Faktanya memang sepanjang tahun sebelumnya marak terjadi tawuran antar sekolah STM dan SMK. Jadi sebenarnya anak-anak ini mengajarkan kepada orang dewasa, bahwa demi sebuah cita-cita politik untuk bangsa, perbedaan setajam apapun dapat dikesampingkan.

Dengan cerdas para pelajar ini menjawab keraguan publik terhadap kapasitas intelektualnya, dengan menulis di poster aksi: Mahasiswa Orasi, Kami Eksekusi. Jadi biarlah urusan konten perjuangan, ditulis dan dipidatokan (“orasi”) oleh kakak-kakak mereka para mahasiswa, yang tentu lebih intelektual dari mereka karena mengenyam bangku kampus yang sarat akan diskusi dan perdebatan. Tidak seperti mereka yang begitu lulus dari STM dan SMK akan langsung masuk dunia kerja.  

Mereka sangat yakin mereka mampu mengeksekusi di lapangan. Dan para pelajar ini membuktikannya. Pintu pagar belakang Gedung DPR Senayan yang dijaga ratusan aparat berhasil mereka bobol. Seperti ditayangkan video yang viral di media sosial: terlihat bagaimana dalam suatu adegan di demonstrasi di DPR, para pelajar ini bahkan berhasil merebut dan menguasai mobil water canon milik aparat. Belum ada demonstrasi di Indonesia yang mampu melakukan hal luar biasa ini, mungkin baru pertama kali dalam sejarah.  

Banyak pihak yang tercengang kekuatan para pelajar, bahkan ada yang berusaha menghubung-hubungkan hal yang sifatnya kebetulan. Semisal, semangat tinggi dan pemberani para pelajar ini datang karena ada energi yang lahir dari lokasi demonstrasi mereka di dekat pintu belakang DPR, yang kebetulan bernama Jalan Tentara Pelajar Pejuang.

Faktanya, semua mata sudah memandang dan ingatan publik akan terus merekam kejadian bersejarah ini. Namun, apapun capaian dari Angkatan 2019, yang dipimpin oleh mahasiswa dan dijaga semangatnya oleh pelajar, pasti akan tetap ada suara yang berusaha yang merendahkan kualitas mereka.

Ini karena Angkatan 2019 dianggap masih belum mampu mengganti rezim pemerintahan. Tidak seperti Angkatan 1966 yang berhasil menurunkan Soekarno dan Angkatan 1998 yang menurunkan Soeharto.  Namun Angkatan 2019 dapat berkilah, bahwa gerakan mereka saat ini belum usai karena sedang terbentuk. Dan itu memang benar. Biar sejarah yang membuktikan akan kemana arahnya.

Karena bukan tidak mungkin kualitas Angkatan 2019 dapat melampaui kedua angkatan seniornya, Angkatan 1966 dan Angkatan 1998, yang “hanya” menumbangkan rezim tanpa mempersiapkan  arah Bangsa ke depan secara aktif. Sehingga membiarkan elite tentara (1966) dan oligarki sipil (1998) membajak perjuangan angkatan mereka, dan akhirnya sekali membelokkan arah bangsa dari cita-cita perjuangan.

Bisa saja kualitas Angkatan 2019 akan lebih jauh lagi, yaitu dengan menjadi penentu aktif dalam pemerintahan pasca 2019. Bisa saja gerakan mereka tidak selesai saat Perppu KPK dikeluarkan, atau RUU yang mereka kritik tidak jadi disahkan seluruhnya. Bisa saja mereka akan terus terlibat intens dalam mempersiapkan perubahan sistem politik, ekonomi, dan kebudayaan  yang menjadi cita-cita mereka untuk Indonesia. Suatu hal yang alpa dikerjakan oleh angkatan senior mereka di tahun 1966 dan 1998.

Sekali lagi, selamat datang Angkatan 2019! Masa depan Bangsa ada di genggaman kalian.

Penulis adalah mantan aktivis pergerakan mahasiswa

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya