Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Perppu UU KPK Ibarat Jokowi Makan Buah Simalakama

SABTU, 28 SEPTEMBER 2019 | 01:44 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Partai politik seharusnya lebih mengedepankan stabilitas politik dan keamanan daripada membenturkan Presiden Joko Widodo dan masyarakat dalam hal polemik revisi UU KPK.

"Hendaknya partai-partai di Senayan mendukung kebijakan yang diambil kepala negara dengan mengesampingkan upaya hukum ke MK yang prosesnya masih lama dan jalannya panjang," kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (27/9).

"Tak kasuh tahu, kalau sebuah undang-undang atau rancangan undang-undang sudah disahkan kemudian direvisi kembali dengan Perppu, mohon maaf, orang yang belajar hukum so pasti paham dan tahu," sambungnya.


Belakangan, Presiden Jokowi mempertimbangkan untuk mengeluarkan Perppu UU KPK. Namun hal ini justru mendapat beragam tentangan dari legislatif.

Pada dasarnya, kata dia, pengajuan judicial review ke Mahkamah Konstitusi seperti halnya usulan yang muncul sah-sah saja dilakukan dalam situasi normal.

Namun dilihat dari kondisi saat ini, di mana penolakan dari massa yang diwakilkan para mahasiswa telah berujung nyawa. Oleh karenanya, tak masalah jika presiden memang benar-benar menerbitkan Perppu.

"Perlu disadari bahwa Perppu dikeluarkan dikarenakan situasi kegentingan yang mendesak, itulah penyebab utama Perppu (kemungkinan) dikeluarkan presiden," terangnya.

Baginya, wacana Perppu sudah dipertimbangkan matang oleh presiden beserta jajaran. Bahkan ia meyakini Perppu tersebut sudah melalui kajian dan masukan dari para ahli atau pakar-pakar hukum yang mendalam.

"Dalam konteks kekinian, lebih tepat menerbitkan Perppu dalam situasi politik yang sudah chaos agar tidak makin menjadi meluas. Langkah Jokowi ini ibarat makan buah simalakama," tutup alumni Lemhanas Pemuda 2009 ini.

Seperti diketahui, wacana Perppu UU KPK direspons negatif oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai berlambang kepala banteng ini sendiri merupakan salah satu fraksi di DPR yang ngotot melakukan revisi UU KPK.

Sekretaris Fraksi PDIP, Bambang Wuryanto menilai langkah yang seharusnya ditempuh adalah di Mahkamah Konstitusi (MK) melalui judicial review UU KPK baru, bukan tiba-tiba mewacanakan Perppu.

"(Jika lewat perppu) ya mohon maaf, presiden enggak menghormati kita dong?" ujar Bambang.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

UPDATE

Rudi Margono Isi Kursi Jampidsus Menggantikan Febrie Adriansyah

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:24

Pembiayaan Tembus Rp10 T, Laba Bank Mega Syariah Naik 17,56 Persen di Semester I-2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:24

Profil Etik Suryani Bupati Sukoharjo yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:20

Ini Alasan KPK Batal Ikut Konferensi Pers Polda soal Perkara yang Menyeret Jampidsus

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:04

Jakarta Jadi Kota Termahal ke-21 di Dunia pada 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:42

Inggris Siapkan Bonus Fantastis Jika Juara Piala Dunia 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:37

Saham SK Hynix Melonjak 13 Persen Saat Debut di Nasdaq

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:31

Komisi III DPR Soroti Kasus Korupsi Batu Bara dan Isu Mundurnya Jampidsus

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:16

Biarkan Kortas Polri Usut Dugaan TPPU Jampidsus Tanpa Intervensi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:00

Jumlah Investor BBTN Kembali Melonjak per Juni 2026, Akhiri Tren Penurunan Dua Bulan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:51

Selengkapnya