Berita

Kardinal Suharyo (kanan) menerima patung Bunda Maria Segala Suku dari AM Putut Prabantoro (baju putih) di kediamannya komplek Katedral Jakarta, Rabu (4/9).

Nusantara

Dari Kardinal Suharyo, Bunda Maria Untuk Tanah Dan Rakyat Papua

JUMAT, 06 SEPTEMBER 2019 | 15:09 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Sebuah patung Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Yesus diserahkan Kardinal Suharyo yang juga Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk tanah dan rakyat Papua sebagai tanda cintanya yang mendalam kepada pulau terbesar di Indonesia itu.

Berharap patung yang terbuat dari kayu gaharu itu akan membawa kedamaian dan perdamaian di tanah papua yang saat ini sedang bergejolak.

Maksud dari pemberian itu diungkapkan Kardinal Suharyo secara khusus kepada pegiat devosi kebangsaan, AM Putut Prabantoro dan Georgius Gomas Harun saat memberikan Patung Maria Bunda Segala Suku di rumah kediaman Kardinal di Jakarta, Rabu sore (04/09/2019).


Kardinal Suharyo menghendaki patung tersebut diberikan ke tanah dan rakyat Papua melalui Uskup Jayapura  Leo Laba Ladjar. Secara khusus, Kardinal Suharyo menitipkan patung Bunda Maria tersebut kepada Georgius Gomas Harun untuk membawanya ke tanah Papua.

Menurut Gomas Harun, patung dengan berat 4 kg dan tinggi 60 cm terbuat dari kayu gaharu yang sudah sangat langka dijumpai. Bahan dasar patung yakni kayu gaharu itu merupakan persembahan dari Antoni Ong yang tinggal di Jayapura, Papua dan kemudian dibuat menjadi patung oleh salah satu maestro patung di Bali.

“Saya tidak tahu berapa tahun usia kayu gaharu tersebut, namun saya kira sudah tua sekali jika dilihat dari urat-urat yang ada pada patung tersebut. Ketika beliau menghendaki patung tersebut dihadiahkan kepada tanah dan rakyat Papua, saya dapat merasakan cinta beliau yang sangat mendalam kepada tanah dan rakyat Papua. Beliau ingin patung Bunda Maria itu dapat menghadirkan kedamaian dan perdamaian di tanah Papua. Beliau sangat prihatin atas apa yang terjadi di tanah Papua saat ini,” ujar Gomas Harun.

Namun Gomas Harun menyatakan belum tahu kapan waktu yang tepat untuk membawa patung tersebut ke Papua. Dirinya harus berkordinasi dengan Uskup Jayapura Leo Laba Ladjar terlebih dahulu untuk mendapatkan masukan apa saja yang harus dipersiapkan. Bagi Gomas, tugas khusus dari Kardinal menjadi tanggung jawab yang berat dan besar.

Sementara itu AM Putut Prabantoro menegaskan bahwa patung dari Kardinal Suharyo ini adalah momentum sejarah bagi Gereja Katolik di Indonesia dan Tanah Papua khususnya terkait dengan penunjukan Mgr Ignatius Suharyo sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus akhir pekan lalu.

Dalam konteks ini, Putut Prabantoro yakin bahwa Tanah dan Rakyat Papua menjadi perhatian Kardinal Suharyo, yang karena gelar tersebut memiliki hak  memilih dan dipilih sebagai Paus.

“Patung Maria Bunda Segala Suku menjadi salah satu ikon Keuskupan Agung Jakarta yang diawali dengan perlombaan Seni patung, lukis dan fotografi yang diadakan pada tahun 2015. Pada bulan Mei 2017 diumumkan pemenang dari lomba tersebut adalah Robert Gunawan, seorang guru lukis anak-anak yang berasal dari Matraman, Jakarta. Dari lukisan tesebut kemudian dijadikan patung yang dikerjakan oleh maestro patung di Bali,” ujar Putut Prabantoro.

“Maria - Bunda Segala Suku” adalah sebutan istimewa untuk Bunda Maria dan disebut fenomenal karena terkait dengan merebaknya ancaman terhadap keutuhan kebangsaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam malam penghargaan pada Mei 2017, Mgr Ignatius Suharyo mengatakan, di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Pernyataan Mgr Ignatius Suharyo “tidak ada yang kebetulan”  merujuk pada waktu pengumuman pemenang sayembara lomba lukis, patung dan fotografi yang mundur satu tahun dari seharusnya, yakni Mei 2016 atau setahun setelah pembukaan resminya pada 30 Mei 2015.

Namun, dengan berbagai alasannya, pengumuman itu baru terjadi pada 22 Mei 2017, ketika Indonesia terpolarisasi berlatarbelakang agama ketika Pilkada DKI Jakarta berlangsung.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Paling Rumit kalau Ijazah Palsu Dipaksakan Asli

Jumat, 27 Februari 2026 | 02:00

UPDATE

Din Syamsuddin Nilai Serangan AS-Israel Bisa Porak-porandakan Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:14

Serangan AS-Israel ke Iran Bisa Picu Konflik Berkepanjangan

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:02

Iran Tutup Selat Hormuz, Lalu Lintas Minyak Global Terancam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:59

UI Tegaskan Demonstran yang Maki Polisi Bukan Mahasiswanya

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:41

AS-Israel Sama Sekali Tak Peka Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:33

KPK Pastikan Anggota Komisi V DPR Terseret Kasus DJKA

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:23

Harga BBM Pertamina 1 Maret 2026: Non-Subsidi Naik Serentak, Pertalite Stabil

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:40

Serangan Trump ke Iran Retakkan Integritas Demokrasi Amerika

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:17

Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:07

Kritik PDIP soal MBG Bisa Dipahami sebagai Peran Penyeimbang

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:04

Selengkapnya