Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Publika

Dijewer Amerika

SELASA, 03 SEPTEMBER 2019 | 11:14 WIB

SEJAK awal kerusuhan Papua diprediksi bukan kebetulan dan berdiri sendiri. Justru kasus ini sarat akan kepentingan politik baik nasional maupun internasional.

Papua adalah "lahan" multi dimensi yang menarik. Dapat menjadi incaran kekuatan baru atau dapat pula menjadi "kartu truf" kekuatan lama untuk mempertahankan penguasaanya.

Pernyataan Moeldoko cukup menjadi sinyal. Menurut Kepala Staf Kepresidenan ini, Amerika Serikat siap mendukung dan mempertahankan Papua.


Ini disampaikan setelah Moeldoko bertemu dengan Asisten Menlu AS urusan Asia Timur dan Pasific David R. StilwellI di Kantor Staf Kepresidenan. Ini jawaban yang menggambarkan bahwa persoalan kerusuhan Papua akan segera selesai.

Ternyata Amerika Serikat tidak bisa diabaikan. Indonesia "gagah-gagahan" mengambil saham 51 persen Freeport lalu aktif menawarkan berbagai saham dan juga aset ke RRC sebagai bagian dari paket keakraban Indonesia dengan China, termasuk program strategis OBOR yang dijalankan Menko Luhut Panjaitan.

Ditambah tawaran investasi lain kepada RRC. Sementara RRC siap mengucurkan dana besar untuk meminjamkan kepada Indonesia. Poros Jakarta-Beijing ini yang menggusarkan Amerika.

Jeweran Papua yang cukup keras membuat Jokowi berat dan Istana berteriak. Jika Amerika memainkan kartunya, maka dengan kekuatan yang dimiliki di PBB sudah dipastikan referendum akan terjadi dan hasilnya Papua akan merdeka.

Australia dan Amerika akan membuat pangkalan kepentingan di bumi "hitam manis" ini. Lepas Papua berimbas pada jabatan Jokowi yang akan diminta pertanggungjawaban rakyat. Jokowi dapat jatuh oleh impeachment. Ini soal jabatan.

Dengan referendum Papua disetujui PBB maka efek domino terjadi. Aceh juga bisa lepas. Semua tahu Eropa memiliki hubungan khusus. Daerah lain menyusul seperti Maluku, NTT, Riau, sampai ke Jawa Barat.

NKRI harga mati menjadi tak berharga karena memang Negara Kesatuan mati. Ini yang diprediksi terjadi "Balkanisasi" di Indonesia. Indonesia menjadi negara yang terpecah pecah.

Situasi dan polarisasi politik bangsa Pasca Pilpres 2019 sangat memungkinkan akan hal tersebut dapat terjadi.

Persetujuan Amerika tentu tidak gratis ada konsesi yang mesti diberikan, sebagaimana dahulu juga referendum "Irian Jaya" tak bisa lepas dari dukungan Amerika.

Kita tak tahu apa saja "give" pemerintah untuk "take" bantuan Amerika tersebut. Tapi itu kekalahan pertama rezim. Ke depan tentu berpengaruh pada aspek lain khususnya dalam kaitan poros Jakarta Beijing.

Kita lihat waktu mendatang fluktuasi politik dan ekonomi yang terjadi di negeri ini yang tak bisa dipisahkan dari konflik global persaingan pengaruh AS dan China.

Bisakah Jokowi memainkan pola keseimbangan politik atau mengambil jalan penguatan poros dengan segala risikonya termasuk akhirnya kesiapan  melepaskan jabatannya sebagai Presiden.

Penumpasan G 30 September dahulu konon juga berhubungan dengan peran Amerika. Jadi patut belajar dan waspada. Jangan jauhi dan khianati rakyat.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya