Berita

Sri Mulyani/Net

Politik

Tax Ratio Rendah Dikritik Lima Fraksi, Ini Jawaban Sri Mulyani

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 | 16:10 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Rasio pajak atau tax ratio pemerintah yang masih rendah disoroti lima fraksi di DPR. Fraksi Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PKB, dan PKS secara kompak mendesak pemerintah untuk segera meningkatkan tax ratio tersebut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan jawaban bagi kelima fraksi itu dalam rapat paripurna di gedung DPR, Senayan, Selasa (27/8).

Sri Mulyani menyadari tantangan fiskal yang masih dihadapi adalah ruang fiskal karena tax ratio masih belum optimal.


“Di satu sisi pemerintah terus berupaya untuk memperluas basis pajak, mencegah kebocoran pemungutan, melakukan reformasi perpajakan, serta mempermudah pelayanan pada wajib pajak,” ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut menkeu terbaik dunia itu, pemerintah juga menjadikan instrumen perpajakan sebagai alat dalam memberi insentif untuk mendukung laju kegiatan dunia usaha serta pengurangan beban wajib pajak.

“Paling tidak sampai tahun 2018, pemerintah telah memberikan keringanan atau potongan perpajakan dalam bentuk pengeluaran perpajakan (tax expensiture) mencapai Rp 221,1 triliun atau setara 1,5 persen dari PDB,” ucapnya.

Selain mempermudah pelayanan pada wajib pajak, kata Sri, pihaknya juga melakukan upaya tax ratio melalui peningatakan kepatuhan pajak.

Salah satu strateginya dengan optimalisasi penerimaan pajak yang difokuskan pada peningkatan kepatuhan wajib pajak lewat perbaikan administrasi dan penyerdehanaan dengan menggunakan fasilitas berbasis IT.

Upaya pemerintah dalam pencapaian tax ratio sebesar 11,5 persen dalam RAPBN tahun 2020 dilakukan melalui tax gap, baik dari sisi administrasi maupun regulasi.

“Untuk mendukung mencapainya tax ratio yang optimal dibutuhkan basis kepatuhan pajak yang sifatnya voluntary compliance (kepatuhan pajak sukarela) sehingga dapat menghasilkan penerimaan pajak yang berkelanjutan,” tutupnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya