Berita

Foto:Net

Publika

Jangan Menyulut Bara Berpecahan Antar Umat Beragama

RABU, 21 AGUSTUS 2019 | 10:59 WIB | OLEH:

SETIAP agama pasti menyatakan dirinya sebagai ajaran yang benar. Tak ada agama yang menyatakan, yang lain juga benar. Kalau yang lain juga benar, tentu menjadi tidak beralasan menganut suatu agama. Karena agama itu prinsip berkehidupan, bukan gaya dalam hidup.

Itu pula esensi dakwah UAS kepada umat Islam yang belakangan ini disebar dalam bentuk potongan video, yang entah dipotong oleh siapa dan disebarkan untuk apa.

Apakah isi video tersebut salah? Tentu saja tidak. Adalah kewajiban setiap pemuka agama menjawab sesuai ajaran agamanya, ketika ada umat bertanya bagaimana menjadi beriman dan mengatasi diri dari lemah iman dalam beragama.


Non-Islam sudah pasti tak sepakat agamanya dinyatakan sebagai tidak benar, karena dalam agamanya pastilah berlaku hal yang sama seperti dijelaskan sebelumnya. Dalam agama mereka, tentulah mereka yang benar dan agama Islam termasuk agama yang salah.

Apakah ini menyakitkan bagi umat Islam? Jawabnya tidak. Itu kenapa dalam Islam ada ajaran tentang, untukmu agamamu untukku agamaku. Islam tidak pernah mengajarkan agama lain benar dan tidak pernah mengajarkan hinalah agama lain karena salah. Bedakan menceritakan kondisi ajaran agama lain, dengan mengolok-olok ajaran agama lain.

Di sisi lain fakta ini menunjukkan bahwa pluralisme agama itu memang dongeng kaum sesat non-beragama. Mereka ingin para penganut agama ini menganggap agama satu sama lain sama-sama benar. Mereka ingin agar umat beragama menjalani iman yang salah dengan menganggap agama di luar yang dianutnya adalah juga benar.

Sesuatu yang secara esensi salah secara keimanan. Karenanya kita sebagai bangsa Indonesia wajib mewaspadai orang-orang yang mengajarkan pluralisme agama, karena pada dasarnya mereka ingin umat beragama menjadi sesat dalam beragama.

Kembali ke pangkal persoalan, yang paling dasar adalah setiap umat beragama wajib saling menahan diri, karena sabar juga ajaran semua agama. Jangan mengambil sikap sebagai perusak persatuan antar umat beragama di Indonesia dengan mengipas-ipaskan api kemarahan dari diskusi perbandingan agama yang dilakukan dalam ruang terbatas.

Faktanya semua umat beragama di Indonesia melakukan itu dalam diskusi internalnya. Apakah salah melakukan diskusi internal soal perbandingan agama? Tentu tidak. Itulah salah satu cara untuk menaikkan kadar beriman dalam beragama yakni mempelajari dan memahami kelemahan agama lain dibandingkan kebenaran agama yang diyakini.

Jadi mari kita menahan diri sebagai umat beragama dari konflik antar umat beragama. Beragamalah dengan cerdas. Pahami dasar-dasar keimanan agama masing-masing. Pahami umat beragama lain boleh dan sah berpikiran berbeda dalam memahami tentang Tuhan. Pahami berbeda pemahaman tentang Tuhan tidak boleh dipaksakan untuk menjadi tidak berbeda. Berbeda dalam iman adalah hak. Jangan menggugat ajaran agama satu sama lain.

Jadi jangan mengatakan kegiatan kurban umat Islam sebagai pembantaian massal. Biarkan juga umat Kristen meyakini salib dan Kristus sebagai bagian ajaran keimanan mereka.

Salah satu cara paling mudah menjalani kehidupan antar umat beragama adalah memahami perintah dan larangan agama masing-masing, serta jadikan itu sebagai batasan normatif untuk tidak saling hujat. Terutama, pahami apa yang dilarang oleh masing-masing ajaran.

Hanya dengan saling memahami perbedaan kita bisa hidup rukun dan itulah pesan dari Pancasila sebagai ideologi bangsa. Kita diminta untuk memiliki Tuhan dalam iman masing-masing. Kita diminta harus bisa bersikap adil dan beradab memahami satu sama lain. Kenapa demikian? Karena kita perlu dan wajib menjaga persatuan bangsa.

Model kerakyatan kita tidak boleh mengumbar emosi, melainkan wajib dipimpin dengan hikmat, bijaksana dan penuh dengan sikap musyawarah. Agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Itulah esensi kita beragama, berbangsa dan bernegara. Mari kita wujudkan dalam bingkai ideologi Pancasila.

74 tahun Republik Indonesia, mari tetap berpancasila.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategi Indonesia.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Zero ODOL Sulit Diterapkan, DPR Ingatkan Risiko Inflasi di Sektor Logistik

Jumat, 10 April 2026 | 12:14

Catut Nama Pimpinan KPK, Komplotan Pegawai Gadungan Peras Anggota DPR

Jumat, 10 April 2026 | 11:51

Sentimen Perang Picu Spekulasi Logistik: Ancaman Baru bagi Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 April 2026 | 11:39

Komplotan Pegawai KPK Gadungan Dibongkar, 17.400 Dolar AS Disita dari Aksi Pemerasan

Jumat, 10 April 2026 | 11:28

DPR: Sejumlah Jalan Tol Cacat Sejak Awal Konstruksi

Jumat, 10 April 2026 | 11:16

Emas Antam Makin Mahal, Cek Daftarnya Hari Ini

Jumat, 10 April 2026 | 11:05

KPK-Polda Metro Tangkap 4 Pegawai Gadungan di Jakarta Barat

Jumat, 10 April 2026 | 11:03

Ini Kronologi Kasus Petral yang Menjerat Riza Chalid dan Enam Tersangka Lainnya

Jumat, 10 April 2026 | 10:53

Bulan Ini Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 Titik PSEL

Jumat, 10 April 2026 | 10:49

KPK Terapkan Skema Kerja BDR-BDK untuk Dukung Efisiensi Energi

Jumat, 10 April 2026 | 10:34

Selengkapnya